Malam minggu yang suram. Seorang gadis duduk terdiam
di samping meja belajarnya, menatap layar handphonenya dengan tatapan penuh
harap. Berharap pujaan hatinya menghubunginya setelah seharian ini tidak ada
kabar. Ya. Malam ini malam minggu, malam yang entah sejak kapan menjadi malam
’wajib’ bagi insan manusia yang sedang menjalin asmara. Lalu kenapa? apa setiap
pasang kekasih harus melewati malam ’wajib’ itu dengan suka cita? Kurasa tidak.
Ya... setidakmya itu yang akan dikatakan Agni, gadis yang sudah hampir setahun
ini menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Cakka. Entah karena alasan
apa Agni bisa jatuh cinta dengan pria itu. Sudah puluhan... tidak, bahkan sudah
ratusan kali Via, sahabatnya selalu menasehatinya bahwa Cakka bukanlah pria yang
pantas untuknya. Pria itu benar-benar seperti patung tak berseni. Selalu terkesan
dingin, cuek, diam, bila diajak berbicara dengan Agni. Via sendiri bingung
mereka berdua berstatus pacaran tapi tidak seperti orang pacaran. Tidak pernah
Via melihat mereka berdua jalan sambil bermesaraan atau hanya sekedar
bergandengan tangan. Menurutnya Cakka hanya akan membawa Agni kedalam dunia
cinta yang kelabu.
Sudah hampir 1 jam
pandangan Agni tak terlepas dari layar handphonenya. Sampai akhirnya benda itu
mengeluarkan deringnya.
”Hallo, Cakka? Kamu kemana aja sih? Kenapa seharian gak ada kabarr?, kenapa
juga Hpnya selalu gak aktif”, tanya Agni bertubu-tubi
”Hallo, Agni. Aku nelfon Cuma mau ngasih tau kalo besok kita batal jalan.”,
ujar Cakka tenang seolah menghiraukan semua pertanyaan Agni barusan
”Tapi Kka..”
”Agni udah dulu ya, aku lagi ribet
nih. Oke, bye” Klik!
Agni menghela napasnya dengan berat. Cakka, pria
itu lagi-lagi cuek terhadapnya. Bahkan penantian selama satu jam tadi seolah
tidak bermakna apa-apa. Memori tentang ucapan Via mengenai Cakka tiba-tiba saja
hadir dalam benak Agni. Agni kembali menghela napasnya.
*****
Senin pagi di SMA Nusantara begitu ramai. Banyak
siswa yang terus menampakkan dirinya didepan kelas. Agni terus berjalan menuju
kelasnya, menghiraukan hiruk pikuknya gerombolan siswa di sepanjang koridor. XI
IPA 2, sebuah kelas yang sudah hampir setahun ini menjadi ’kamar’ Agni bila
sedang di Sekolah.
Agni melangkah masuk, senyuman kecil mengembang
dibibirnya setelah dia melihat Cakka sedang duduk sendirian di bangkunya sambil
membaca sebuah buku.
”Cakka..”, sapa Agni stelah dia berada tepat di samping Cakka.
”He’emm...”, sahut Cakka sekenanya.
”Kamu baca apa sih? Serius banget”, tanya Agni sambil mengambil posisi
duduk di samping Cakka.
”Baca buku”, jawab Cakka singkat.
”Ya.. aku tau, maksud aku kamu lagi baca buku apa?”, tanya Agni kembali
”Dia lagi baca buku tentang seorang cowok yang gak pernah mengharagai
ceweknya”, tiba-tiba Via datang menyambar, memberi sindiran kepada Cakka.
”Via..”, Agni menoleh kearah Via yang kini sudah berdiri disampingnya.
”Udahlah Ag, percuma lo ngajak ngomong patung tak berseni ini, mending lo
ikut gue aja, ayo!”, Via menarik paksa tangan Agni, membawanya menjauh dari
Cakka.
*****
Sore ini Agni sedang menemani Cakka ke sebuah toko
buku. Sebenarnya Cakka menolak untuk ditemani, tapi Agni terus memaksanya untuk
turut ikut menemaninya. Dan disinilah mereka, disebuah toko buku yang terbilang
cukup besar di daerah Jakarta. Banyak pelajar dari segala sekolah atau
universitas yang datang kesini untuk mencari berbagai macam buku.
Ketika mereka sedang asik melihat-lihat beberapa
buku, tiba-tiba saja seorang pria mengampiri mereka, menyapa Cakka,
merangkulnya dengan penuh semangat. Agni menatapnya penuh dengan rasa tanya.
Siapa dia? Merangkul pacarnya dengan seenaknya, dia saja belum pernah dirangkul
sama sekali. Agni jadi iri sendiri melihatnya.
”Udah lama ya Kka gak ketemu, gimana kabar lo?”, tanya pria itu setelah
melepas rangkulannya
”Baik, Lo sendiri gimana Vin?”, Tanya Cakka balik
“Baik juga. Eh siapa tuh Kka? Pacar lo ya?”, pandangan pria itu kini
beralih ke Agni yang sudah sedari tadi merasa dicuekin.
”Oh.. bukan. Dia Cuma temen gue”. jawab Cakka.
Apa katanya? Cuma temen? Agni bersumpah saat itu
juga dia ingin melempar buku yang sedang dipegangnya ke muka Cakka. Hanya saja
dia masih tau diri, ini toko buku dan dia gak mau membuat keributan disini.
”Ooh, kirain. Eh Kka sorry ya, gue udah harus balik nih, seneng bisa ketemu
lo lagi. Gue duluan ya...”, pamikt pria itu kepada Cakka dan Agni.
”Yang tadi itu siapa?, temen kamu?’, tanya Agni setelah mereka keluar dari
toko buku tersebut
”Iya, namanya Alvin, dia temen aku waktu SMP dulu”, jawab Cakka
”Terus.. kenapa kamu tadi bilang kalo aku Cuma temen kamu, kamu gak ngakuin
aku
sebagai pacara kamu? Ha?”, emosi Agni mulai
memuncak
”Aku gak mau aja ada brita yang macem-macem nanti” jawab cakka tenang
”Brita apa sih Kka..?”, tanya Agni dengan penuh
emosi, matanya sudah mulai berkaca-kaca
”Udah ag gak usah dibahas, udah siang ayo pulang”, ujar Cakka yang langsung
menarik paksa pergelangan tangan Agni.
*****
Hujan. Lagi lagi suatu keadaan yang membuat Agni
bosan. Hanya bisa duduk di kamarnya menatap halaman luar lewat kaca-kaca
jendela yang dingin. Agni mengambil handphonenya mengetik beberapa kata disana
dan menekan tombol ’send’. Sesaat kemudian handphonenya berbunyi, tertera nama
Via di layarnya.
”Agni.. lo kenapa lagi?”, tanya Via dari sebrang telfon
”Eeee.. gapapa koq Vi..”, jawab Agni bohong
”Jangan bohong deh, gak mungkin gak ada apa-apa kalo tiba-tiba lo sms gue
suruh nelfon lo malem-malem gini, ada apa sih?”, tanya Via lagi yang makin
penasaran dengan sahabatnya yang satu ini
”Cakka Vi...”, Agni mulai bersecerita suaranya sedikit serak menahan tangis
”Cakka? Bikin ulah apa lagi patung tak berseni itu? Ha?”, tanya Via emosi
”Aaaa.... Via... gue benci banget sama dia...”, tangis Agni mulai pecah
”Ag..”
” lo tau gak sih, tadi siang itu dia ketemu sama temen lamanya, dan lo tau?
Dia gak ngakuin gue sebagai pacarnya di hadapan temennya itu....”
”Agn..”
”pas gue tanya kenapa dia gak mau jawab, dia malah maksa ngajak gue
pulang.. aaaa...”
”AGNI!, denger gue! gak usah nanagisin patung tak berseni itu! putusin dia
sekarang juga! Oke?”, perintah Via
”Tapi Vi..”
”Gak ada tapi-tapian, dia itu gak jelas beneran cinta sama lo atau gak,
sadar gak sih lo? Dulu pas pertama kali nembak itu lo kan? Dengan kondisi yang
gak ada romantis-romantisnya sama sekali, lo nyatain cinta lo di depan dia saat
dia lagi baca buku, bahkan dia Cuma jawab iya tanpa ngalihin pandangannya ke
lo. Sadar dong ag.. dia itu kelabu banget buat lo, udah pokoknya lo harus
putusin dia!” –Klik- Via memtuskan telfonya begitu saja
Agni masih terisak dalam tangisnya, ucapan Via
barusan terus terulang dalam benaknya, apa dia harus menuruti printah Via untuk
memutuskan Cakka? Atau dia akan terus bersabar demi cintanya kepada Cakka? Tapi
ini sudah hampir satu tahun dan Cakka masih tetap sama.. Ya Via benar Cakka itu
sanagat kelabu untuknya. Agni kau sangat bodoh!
*****
Hari ini bel pulang sekolah dua jam lebih cepat
berbunyi dari biasanya. Alasanya sih karna semua guru sedang mengikuti rapat
tahunan. Agni. Gadis itu kini telah berdiri disamping sebuah motor cagiva
berwarna putih milik Cakka. Seperti biasa dia akan diantar pulang oleh Cakka.
Selama perjalanan, Agni terus memikirkan ucapan Via tadi malam.
”Ka, bisa berhenti sebentar di taman yang depan gak?’, pinta Agni
”Mau ngapain?”, tanya Cakka
”Aku mau ngomong sebentar”
Cakka menurutinya, dia memberhentikan motornya
tepat didepan taman kota yang kebetulan sedang sepi. Sepasang kekasih itu kini
telah duduk di salah satu bangku taman yang bentuknya memanjang yang di cat
dengan warna putih.
”Mau ngomong apa?” tanya Cakka langsung
”Aku.. aku.. aku mau.....”
”Sebentar, Hp aku bunyi”, tiba-tiba saja Handphone Cakka berbunyi.
Panggilan masuk. Dasar! Apakah si
penelfon tidak tau situasi? Ya. Tentu saja tidak tau.
”Hallo... oh iya Ray, kenapa?.... sekarang?..... oke, tunggu ya....” –klik-
, Cakka mematikan handphonenya dan beralih kepada Agni lagi
”Ag, kita pulang sekarang ya, aku ada janji sama Ray, ayo..”, cakka menarik
tangan Agni mengajaknya untuk pulang
”Aku mau kita PUTUS!”, ucap Agni sedikit berteriak sambil menepis tarikan
tangan Cakka
”Ag...”
”Aku capek Kka.. kamu selalu nganggep aku gak ada, ini udah hampir satu
tahun, kamu gak ada perubahan, masih tetep sama. Cakka yang dingin, cuek, yang
gak jelas cinta sama aku atau gak. Sebenenya aku selama ini selalu sabar nanggepin
sikap kamu itu karna aku tulus cinta sama kamu dan aku percaya kamu akan bisa
berubah, tapi nyatanya... bener kata Via, kamu itu patung tak berseni yang
sangat kelabu”, tangis Agni pecah sudah, dua sungai kecil sudah mengalir
membasih pipinya.
”kalau emang itu mau kamu, aku turutin.. kita putus”
Agni tercekat. Segitu gampangkah Cakka setuju dengan keputusan Agni
barusan? Apa pria itu benar-benar tidak mencintainya? Lalu selama hampir satu
tahun ini.. untuk apa semua itu? Agni terdiam dan masih terus menangis
”udah jangan nangis, aku anter kamu pulang sekarang, ayo”, Cakka kembali
meraih tangan Agni. Tapi kemudian Agni menepisnya lagi
”Gak usah! Aku mau pulang sendiri”, ucap Agni
ketus. Dia mengelap air matanya dengan kasar dan melangkah pergi meninggalkan
Cakka.
Ya. Mungkin inilah yang terbaik untuk Agni.
Melepas cintanya yang penuh dengan ketidakpastian. Agni menarik napasnya
panjang dan membuangnya sambil memaksakan senyum dibibirnya.
”Selamat tinggal patung tak berseniku..
selamat tinggal Cinta kelabuku..”
-FIN-