Sebelumnya mau minta maaf apabila ada kesamaan tokoh, ide cerita, setting, dll... . gue gak pandai bikin cerita. tapi nikmatin aja ya bacanya. sebelumnya gue udah ngepost bagian awalnya. Sorry kalo hasilnya mengecewakan... So.. ini Dia......
(1 Januari 2013)
Malam ini hujan
turun dengan lebat. Aku berdiri disebuah halte tempat biasa aku menunggu bus
untuk pulang. Saat itu jalanan sedang sepi, mungkin karena pengaruh waktu yang
sudah menunjukan pukul 11 malam. Kuliah malam dan banyaknya tugas yang
menuntutku pulang selarut ini. Begitu hening dan dingin, sedikit kekhawatiranku
kalau saja tidak ada lagi bus yang beroperasi. Aku melangkahkan kakiku kedepan
beberapa langkah melihat kearah kananku untuk memastikan akan ada bus yang
lewat. Tapi hasilnya nihil. Lalu aku kembali melangkahkan kakiku kebelakang dan
”Arrgh” teriak seorang pria. Dengan perasaan takut dan berhati-hati aku mulai
menoleh kearah belakangku. Dang Binggo! Aku melihat seorang pria yang sudah
sangat aku kenali. Dia tampan, tinggi, berkulit putih, rambutnya sedikit
acak-acakan tapi terkesan cool. Dia Cakka, pria yang sudah sangat terkenal di
kampus kami karna kepopulerannya sebagai kapten tim basket sekaligus sebagai
anak dari seorang pengusaha hotel ternama di Indonesia. Lalu untuk apa dia
berada disini? Menunggu bus juga? Kurasa tidak. Dia selalu membawa kendaraan
mewahnya kekampus. Lalu kemana kendaraannya itu sekarang? Begitu banyak
pertanyaan yang bersarang di benakku saat melihat Cakka di halte ini.
”Ups! Sorry’, aku
langsung mengangkat kaki kananku yang tak sengaja menginjak kaki Cakka
”Sendirian?”,
tanyaku lanjut
”Liatnya?”, tanya
Cakka balik. Pandangannya tidak lepas dari jalanan didepan
”Ya sendirian
sih”
”Yaudah itu tau”
Aku berani
bersumpah, pria ini benar-benar menyebalkan. Apa harus sedingin itu menjawab
pertanyaanku.
Suasana hening,
tidak ada lagi percakapan diantara aku dan Cakka, malas juga kalo harus mulai
mengajaknya ngobrol lagi. Itu sama saja masuk kedalam lubang yang sama untuk
kedua kalinya.
”Lo Agni kan?”,
tiba-tiba Cakka memulai pembicaraan. Kaget juga mendengarnya bicara duluan
terlebih lagi dia tau namaku
”Eh.. iya, gue Agni”
”Oooh..”
Kembali hening
“Koq Lo kenal gue?” tanyaku penuh selidik
“Penting gue jawab?”
“Gak, gak usah di
jawab”, aku mendengus kesal.
Kembali hening.
Oh God ciptaanmu yang satu ini benar-benar sangat dingin dan menyebalkan. Bahkan
kamipun tidak saling menatap saat kami berbicara. Hanya sibuk dengan tatapan
masing-masing yang entah menatap apa di depan sana.
”Gue suka Sama lo!”,
kata Cakka tiba-tiba. Masih dingin.. dan masih tidak menatapku
Jujur saja, aku
sangat terkejut mendengarnya
”Jangan
bercanda”. Ucapku tenang
”Serius”
”Gue bilang
jangan bercanda”
Tidak ada jawaban
dari Cakka. Aku meliriknya. Dia menundukan kepalanya entah karena apa.
”Gue duluan”,
tiba-tiba Cakka pergi begitu saja menerobos lebatnya hujan di jalan. Sebenarnya
apa yang terjadi pada anak itu.
(8 Januari 2013)
Sudah seminggu
ini aku tidak melihat keberadaan Cakka di kampus. Bahkan aku juga tidak bisa
menemukannya di lapangan basket tempat biasa dia berkumpul bersama
teman-temanya. Kemana anak itu? Apa ada
sangkut pautnya dengan kejadian waktu malam itu?
Hari ini dan
sebulan kedepan aku kuliah pagi. Kebetulan butik baju tempat biasa aku bekerja
sedang mengalami renovasi, jadi seluruh karyawan diliburkan. Ya. Sudah setengah
tahun ini aku bekerja di butik baju dekat kos-kosanku. Aku memilih kerja part
time untuk tambahan uang kuliah dan untuk mengisi waktu luang.
*****
waktu sudah
menunjukkan pukul 3 sore. Berarti sudah dua jam aku berada di perpustakaan
kampus. Aku memang sering kesini untuk membaca sejumlah buku. Dari kecil aku
memang sangat suka membaca mungkin itu sebabnya aku selalu mendapat peringkat
yang baik dikelas. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju pintu keluar kampus.
Ah ternyata hujan turun lagi dan sialnya aku lupa membawa payung.
”Belum pulang?”
tanya seseorang tiba-tiba dibelakangku. Familiar suaranya, berat dan terkesan
cool.
”Cakka!”, seruku
kaget
”Belum pulang?”,
tanyanya ulang
”Em.. belum.
Hujan, gue lupa bawa payung”
”Cuma hujan
biasa, gak deres”
”Tapi tetep aja
bisa bikin gue basah”
”Takut basah?”
”Eh....”
”Cih Dasar
kucing”
Aku menyesal
bertemu dengan Cakka. Mengapa dia tidak hilang lebih lama lagi. Aku benar-benar
malas berhadapan dengan sikap dinginnya itu.
”Gue anter”
”Gak usah”
”Gratis”
”Gue bilang gak
usah, lo maksa bang.... Eeeeeh... mau di bawa kemana gue?”
Tiba-tiba Cakka
menarik tanganku, dan membawaku ke sebuah motor cagiva putih yang sedang terpakir
di depan kampus
”Naik!”,
perintahnya
”Gak!”
”Keras kepala”
”Lo juga..
Aaaa... Cakka
lepasin gue”.
Pria ini
benar-benar menyebalkan. Aku sudah bilang aku tidak mau naik. Dia malah
menggendongku dan langsung mendudukkanku tepat di jok belakang. Cih! Dia
benar-benar menyebalkan.
Cakka
mengendarakan motornya dengan sangat cepat. Padahal hujan masih belum berhenti,
tetapi Cakka tetap nekat mengendarakan motornya menerobos lebatnya hujan.
Cakka.. kau benar-benar sudah gila.
”Turun”
”Hah? Apa?”
”Turun, udah
sampai”
Akupun turun dari
motor Cakka dan mulai menatap bangunan di depanku ini.
”Ini tempat apa
Kka?”
”Lo gak bisa
baca?”. Cakka menunjuk ke sebuah papan yang terpasang didepan bangunan itu.
”Rumah Pelangi”,
ucapku sambil menatap papan yang ditunjuk Cakka.
”Ayo masuk,
hujannya makin deres”, ajak Cakka yang mulai melangkah masuk ke dalam rumah
tersebut.
”Cih apa-apan
itu? Dari tadi udah hujan kali, udah keburu basah baju gue. baru disuruh neduh
sekarang. Dasar wong edan”, bisikku
”Gue denger”,
teriak Cakka yang sudah hampir tiba di depan teras rumah tersebut.
Aku mulai
mengikuti Cakka untuk masuk ke rumah itu. Rumahnya sederhana, tapi ada sesuatu
yang menarik perhatianku. Didepan rumah itu ada halaman yang cukup luas.
Terlihat sebuah rumah pohon yang dibawahnya terdapat sebuah ayunan dari rotan
yang cukup untuk dua orang. Juga ada beberapa bangku dan meja taman di
sampingnya. Semua di cat dengan warna senada, warna pelangi. Mungkin itu
sebabnya rumah ini disebut rumah pelangi. Tapi.. rumah siapa ini? Apa Rumah
Cakka? Tapi apa mungkin seorang Cakka yang berasal dari keluarga kaya raya
memiliki rumah sesederhana ini?
”Ka Cakka..!”.
seorang anak perempuan tiba-tiba keluar dari rumah itu dan langsung berlari
kearah Cakka.
”Haay.. Angel,
gimana keadaan kamu? Udah gak sakit kan?”
Kulihat Cakka
begitu akrab dengan anak itu. Sikap dinginnya yang menyebalkan itu tiba-tiba
lenyap entah kemana. Saat itu Cakka benar-benar terlihat berbeda.
*****
Ku ayunkan kakiku
perlahan, ku biarkan tubuhku bergerak mengikuti gerak ayunan rotan yang kini
aku duduki. Hujan telah berhenti. Ku pejamkan mata dan menghirup dalam-dalam
aroma hujan yang menyejukkan. Sangat menenangkan.
”Udah mau malem.
Ayo pulang”. Suara itu lagi, menggangguku lagi. Cakka benar-benar tidak bisa
melihatku senang sebentar
”Sebentar lagi”,
sahutku malas dengan masih memejamkan mata.
Suasana begitu
hening. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian di halte seminggu yang lalu.
Sama seperti ini. Hening dan dingin. Perlahan kubuka mataku dan sedetik
kemudian aku tiba-tiba lupa bagaimana cara bernafas. Wajah tampan itu kini
benar-benar ada di hadapanku. Sangat dekat. Bahkan aku bisa merasakan hembusan
nafasnya yang hangat. Hening.. sangat hening. Hanya sibuk dengan pikiran
masing-masingu untuk mencari arti dari tatapan mata yang hangat itu.
”Eh sorry”,
dengan sekejap Cakka menjauhkan dirinya dariku. Sedikit salah tingkah rupanya.
Sangat lucu.
”Jadi... udah
berapa lama lo jadi relawan buat anak-anak itu?”. tanyaku untuk sedikit
mencairkan suasana.
”Udah dua tahun.”
Aku hanya
menganggukkan kepala tanda mengerti. Tadi sebelum hujan reda saat kami berada
di dalam rumah Pelangi, Cakka menjelaskan kepadaku bahwa rumah pelangi ini
adalah rumah yang Cakka beli untuk membantu memperbaiki hidup anak-anak jalanan
yang tinggal disini. Cakka juga sering membawakan makanan, pakaian, bahkan
buku-buku untuk mereka. Cakka juga menjelaskan atas kehilangannya yang
tiba-tiba beberapa hari yang lalu itu disebabkan karena Angel sakit. Jadi cakka
memutuskan untuk tidak kuliah sebentar untuk merawat Angel. Awalnya aku sempat
tidak percaya dengan Ucapan Cakka. Tapi setelah mendengar pernyataan anak-anak
dirumah pelangi yang bercerita betapa baiknya Cakka, kini aku jadi percaya.
(18 Januari 2013)
Sudah seminggu
lebih aku membantu Cakka untuk mengurusi anak-anak di rumah pelangi. Dan sudah
seminggu lebih pula hubunganku dengan Cakka semakin membaik. Cakka benar-benar
membuatku kagum akan sikapnya yang seperti malaikat bila didekat anak-anak itu.
*****
”Waktu malam itu...”,
tiba-tiba Cakka membuka suara. Membuatku menghentikan gerakan ayunan rotan yang
sedang aku naiki. Aku menoleh kearahnya. Menatapnya penuh rasa tanya.
”Lo belum ngasih
jawaban”, lanjutnya
”Jawaban apa?”
”Cih, Dasar
pikun!”
Aku mendengus
kesal
”Ag..” tiba-tiba
Cakka turun dari ayunan disebelahku dan langsung berlutut didepanku sambil
menggenggam tanganku.
”Ag.. gue bukan
seorang aktor yang suka acting di depan orang banyak. Gue juga bukan pelawak
yang selalu bercanda dalam setiap ucapannya.. Ag.. gue bener-bener jatuh cinta
sama lo”
Ku pandang wajah tampan itu. Sorot matanya penuh dengan
keyakinan. Sepertinya aku akan menarik kata-kataku tempo lalu yang bilang kalau
Cakka bercanda. Saat ini aku benar-benar melihat kejujuran Cakka tentang
perasaannya padaku.
”Tapi Kka...
kenap...” belum selesai aku berbicara Cakka langsung memotongnya
”Gak butuh alasan
Ag.. buat gue jatuh cinta sama lo.. karna gue gak mau suatu saat nanti kita
berpisah karna suatu alasan juga”
Aku terkesima
dengan ucapan Cakka barusan. Ku tatap matanya lekat-lekat. Sedetik kemudian aku
tersadar dan langsung melepaskan tanganku dari genggaman Cakka.
”Kasih gue waktu
untuk berfikir”
”Oke, gue tunggu.
26 januari nanti saat ulang tahun gue. Di sini, ditempat yang sama”
Aku mengangguk tanda setuju.
(21 januari 2013)
Pagi ini rasanya
aku malas sekali pergi ke Kampus. Sudah ada dalam niatku aku akan bolos kuliah
mungkin selama dua atau tiga hari ini. Sudah 3 hari ini hubungan ku dengan
Cakka menjadi sedikit canggung. Aku selalu ingin menghindar bila berhadapan dengan
Cakka di Kampus atau di Rumah Pelangi. Sejujurnya aku masih sangat bingung
dengan perasaanku kepada Cakka. Itulah sebabnya aku selalu merasa tidak siap
bila bertemu dengan Cakka.
Ku langkahkan
kakiku keluar kos-kosanku berniat untuk bolos ke kampus dan pergi ke toko buku
yang biasa aku datangi. Berharap disana aku tidak menemukan keberadaan Cakka.
Saat aku membuka pintu kosanku aku menemukan setangkai bunga mawar putih. Ku
ambil mawar itu dan membaca kartu ucapan berwarna merah muda yang di lekatkan
bersamaan dengan mawar tersebut.
”Gue tau hari ini atau bahkan besok lo pasti gak
pergi ke Kampus. maaf udah bikin lo gak nyaman sama kehadiran gue. Tapi gue
harap besok siang lo bisa dateng ke Rumah Pelangi. Besok Angel ulang tahun. gue
gak mau dia sedih kalo lo gak dateng”
-Cakka-
Aku menghela
nafas, tapi aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Lagi-lagi Cakka melakukan
sesuatu yang tak aku duga sebelumnya. Bagaimana dia bisa tau niatku yang ingin
bolos kuliah.
”Romantis”,
ucapku
(22 Januari 2013)
Hari ini tepat
Angel berusia 8 tahun. Pesta sederhana di adakan di halaman Rumah Pelangi.
Terlihat anak-anak sangat menikmati pestanya tak terkecuali Angel. Senyumnya
tidak pernah pudar selama pesta berlangsung. Terlihat juga Cakka sangat sangat
bahagia karna kerja kerasnya untuk menyiapkan pesta ulang tahun Angel tidak
sia-sia. Cakka. Ya hari ini aku bertemu dengannya setelah beberapa hari yang
lalu aku selalu menghindar darinya.
”Minum?”. Cakka
menawarkan segelas sirup kepadaku
”Tanks”. Ucapku
sambil menerima segelas sirup tersebut
”Lama gak ketemu
sama lo Ag...”
”Kenapa? kangen?
Hahaa...”, candaku
”Iya”
Aku langsung
terdiam setelah mendengar jawaban cakka barusan. Aku tidak mengira dia akan
seserius itu menanggapi pertanyaanku yang terkesan hanya bercanda. Suasana
berubah menjadi hening. Aku tau saat ini Cakka sedang memperhatikanku. Tapi aku
tidak berani menoleh kearahnya atau mengajaknya berbicara. Kemudian cakka
tiba-tiba berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri di bangku taman ini. Aku
menoleh ke samping dan menemukan mawar putih dilengkapi dengan kartu ucapan
berwarna merah muda sama persis dengan mawar putih yang cakka letakkan di depan
pintu kosanku tempo lalu.
”4 hari lagi.. Agnia Agista...”
-Cakka-
Lagi-lagi aku
tidak bisa menahan senyumku saat membaca isi dari kartu ucapan tersebut.
”Iya Cakka Pratama.
I remember”, ucapku pelan.
(25 Januari 2013)
Aku menopang dagu
diatas meja taman di halaman rumah pelangi. Besok cakka berulang tahun itu
artinya aku sudah harus memutuskan jawaban yang akan aku berikan kepada Cakka.
Tapi kemana Cakka? Semenjak acara ulang tahun Angel selesai pada tiga hari yang
lalu aku tidak melihat lagi keberadaannya dimanapun. Lagi-lagi dia menghilang
secara misterius. Tapi kali ini aku benar-benar merindukan kehadirannya. Aku
teringat dengan kejutan-kejuatan manis yang selalu dia buat untukku melalui
bunga mawar putih beserta kartu ucapan merah muda yang isinya selalu bisa
membuatku tersenyum. Sebuah senyuman tiba-tiba terukir di wajahku saat
memikirkannya. Oh apa yang terjadi padaku. Apa aku mulai mencintainya?
”Ka Agni...”,
tiba-tiba Angel datang menghampiriku dengan membawa satu rangkaian mawar putih
dan sebuah buku berwarna coklat. Seperti buku catatan.
”Buat kakak”,
katanya lanjut sambil menyerahkan rangkaian mawar dan buku itu kepadaku
”Dari siapa?”.
Tanyaku. Angel hanya menggeleng tak tau
Ku perhatikan
rangkaian bunga mawar tersebut. Mengapa tidak ada kartu ucapannya? Siapa yang
mengirimnya? Lalu aku mulai membuka buku catatan warna coklat itu. Di dalamnya
penuh lukisan wajahku dalam berbagai moment. Di lembaran terakhir buku itu aku
melihat sebuah tulisan yang sudah sangat aku kenali.
”Agnia Agista... aku sangat mencintaimu”
-Cakka Pratama-
Aku tidak bisa
lagi membendung air mataku setelah membaca tulisan itu. Aku sangat terharu ini
benar-benar sangat romantis. Cakka kamu dimana sekarang? Apa kamu tau kalo kamu
sekarang sudah bisa mendapatkanku.
(26 januari 2013)
Hari ini aku
sangat bersemangat. Cakka.. kamu akan mendapatkan kado terindah dariku. Ku
langkahkan kakiku dengan cepat memasuki Rumah Pelangi. Saat aku tiba disana
terlihat dengan jelas anak-anak sedang bersedih bahkan sebagian dari mereka ada
yang menangis. Apa yang terjadi?
”Ka Agniii...”.
angel berlari kearahku dan langsung memelukku sambil menangis
”Angel kenapa?
koq nangis?”, tanyaku lembut
”Ka Cakka ...
hiks... Ka Cakka udah hiks.. udah gak ada kak.. hiks.. ”, kata angel terbata
bata karna menahan tangis
”Angel.. maksud
kamu apa? Kakak gak ngerti”. Aku mulai sedikit khawatir atas ucapan Angel
barusan. Apa maksudnya Cakka udah gak ada?
Tiba-tiba Kiki
datang menghampiriku. Kiki adalah anak yang usianya paling dewasa di rumah
pelangi ini. Dia yang menjadi kepercayaan Cakka sebagai penggantinya jika cakka
sedang tidak ada di Rumah Pelangi.
”Kak Agni.. tadi
pagi sehabis sholat subuh, kami dapat kabar dari orang tua ka Cakka kalo Ka
Cakka udah gak ada.. Ka Cakka meninggal karna sakit kanker hati yang di idapnya
selama 1 tahun. Selama ini Ka Cakka tiba-tiba menghilang itu karna Ka Cakka
lagi di rawat di rumah sakit karna kondisinya sempat drop. Dan pada akhirnya..”
”Stop! Jangan di
lanjutin. Kakak gak mau denger apa-apa lagi”. Aku berteriak keras kepada Kiki
saat dia menjelaskan apa yang terjadi kepada Cakka.
Lututku lemas,
wajahku sudah penuh dengan air mata. Setelah mendapat alamat tempat Cakka di
makamkan dari Kiki. Aku langsung berlari menuju kesana. Kebetulan jaraknya tak
jauh dari Rumah Pelangi ini.
*****
Aku sudah tiba
tepat berada di dapan pemakaman Cakka. Aku melihat banyak karangan bunga yang
bertuliskan ”turut berduka cita” yang terpasang di depan pemakaman. Dengan
nafas yang terengah-engah aku mulai mendekat kerah kerumunan orang yang baru
saja meninggalkan suatu makam. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat batu
nisan di makam tersebut yang bertulisakan ’Cakka Pratama’
Aku menangis
sejadi-jadinya. Lututku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh
lemas saat itu. Aku menatap nanar sebuah batu nisan didepanku itu.
”Cakka.. kenapa
lo secepat ini pergi dari gue? Kita udah janji kan? Hari ini... hari dimana lo
ulang tahun. lo akan mendengar jawaban dari gue. Apa lo gak mau denger jawaban
dari gue Kka? Aku mencintaimu Cakka... aku mencintaimu..”
Tiba-tiba
kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya. Seorang wanita
dewasa tiba-tiba ikut berlutut disampingku
”Kamu pasti
Agni.. Cakka banyak cerita tentang kamu. Tante sebagai Mamanya Cakka mau
ngucapin makasih banyak ke kamu, karena kamu sudah membuat sisa hidup Cakka penuh
dengan kebahagiaan”
Aku hanya
menatapnya nanar, aku sudah tak mampu lagi berkata-kata.
”Selama ini Cakka
selalu menutupi penyakitnya dari orang lain. Terutama dari kamu Agni, dia tidak
mau kalau kamu tau dia mengidap penyakit kanker. Kemarin Saat kondisi Cakka
benar-benar memburuk. Cakka menyuruh tante untuk mengirimkan rangkaian mawar
putih untukmu beserta buku catatan Cakka. Agni... percaya sama tante Cakka
pergi bukan untuk meninggalkanmu, dia akan terus mencintaimu Agni..”
Ku alihkan
pandanganku ke batu nisan di hadapanku. Aku memeluknya erat sangat erat.
”Aku juga
mencintaimu Cakka Pratama”, ucapku sendu
(31 Januari)
Sudah lima hari
setelah kepergian Cakka. Kini aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk Rumah
Pelangi. Bahkan tak jarang aku menginap disini dan tidak pulang ke kos-kosanku.
Hari hariku di Kampus juga tak sesemangat dulu. Aku merindukanmu Cakka. Aku
ingin kau kembali.
*****
Ku hela nafasku
perlahan. Disini. Di halte ini. Sama seperti ini hujan, sepi dan dingin. Saat
aku dan Cakka pertama kali ngobrol lalu tiba-tiba Cakka menyatakan perasaannya
padaku untuk pertama kalinya dengan sikap dinginya. Aku tersenyum mengingatnya.
Tiba-tiba
seseorang mengajukan setangkai bunga mawar putih di hadapanku. Aku terkejut.
Mawar itu.. aku menoleh ke samping. Seorang pria berdiri disana. Tinggi, Putih,
Tampan, sama seperti...
”Lo Agni kan?...
gue suka sama lo!”
__FIN_