Sabtu, 28 September 2013

DRAMA in DESTINY



Percaya akan adanya takdir? Jika kau bertanya padaku maka jawabanya adalah Ya! Aku percaya. Lalu percayakah bahwa dari takdir yang kau alami akan membuat hidupmu seakan penuh dengan drama? Dan jawabanku akan sama Ya! Aku percaya.

            Rasanya baru kemarin aku melihat wajah tampan itu, mendekapku, membelai pelan rambutku dan mengecup hangat keningku. Tapi nyatanya wajah tampan dan segala bla bla bla itu sudah pergi dariku sejak 2 tahun yang lalu. 2 tahun yang lalu saat aku masih menikmati indahnya masa SMAku, begitu indahnya karna hadirnya seorang Rakka Aditya. Kita dipertemukan dalam sebuah tabrakan kecil yang menurutku sangat drama, moment tatap-tatapan itu, moment saling melemparkan senyum itu, tidakkah itu sangat drama? Tapi itu bagian dari takdirku. Pertemuan tak sengaja waktu itu yang selanjutnya berkembang menjadi suatu hubungan yang lebih khusus, sampai pada akhirnya tepat dihari kelulusan Rakka meminta untuk putus secara tiba-tiba. Dengan alasan ingin fokus belajar di salah satu universitas dinegri paman Sam itu. Tentu saja seorang Rakka Aditya, Kapten tim basket putra, Ketua Osis, Juara umum, tentu ingin mendapatkan sekolah yang layak dan bagus untuk masa depannya. Tapi apa harus sejauh itu? Well, ini semua karna takdir. Takdir yang memisahkan kami berdua, mengakhiri kisah cinta kita seperti layaknya drama.

            Sampai sekarang aku belum bisa melupakannya. Bahkan aku masih selalu menandai kalenderku dengan tanda hati setiap tanggal 18 agustus, hari jadi kita. Kalau bukan karna takdir sialan itu, dua hari lagi aku sudah tiga tahun bersama Rakka. Hhhh aku menghela napas untuk kesekian kalinya.

”Sya... Sya... Marsya!”
”Eh, kenapa Vi?
”Aduh Sya, lagi-lagi lo ngelamun, pleas deh Marsya lo gak mau kan ayam tetangga gue mati lagi”

            Via, dia sahabatku sejak kecil. Seorang cewek yang selalu percaya dengan yang namanya tahayul. Baru kemarin aku kena protes olehnya  karna aku sering melamun sehingga ayam tetangganya mati. Padahal sudah jelas terbukti ayam itu mati karna flu burung. Tapi itulah Via. Tahayul yang kadang-kadang tidak masuk logikapun akan dia percayai. Tapi dia sahabatku dan aku akan menerimanya seburuk apapun sifatnya.

”Rakka lagi?”
”Hah? Eee..”
”Ah, sudah, lupakan! Mau sampai mulut gue berbusa buat nyuruh lo lupain si Rak sepatu itu, lo juga gak bakalan nurutin”
”Namanya Rakka Via, bukan Rak sepatu”
”Terserah”



*****

            Sebuah kotak merah muda aku keluarkan dari laci meja belajarku. Kubuka tutupnya secara perlahan. Aku memandang nanar isi dari kotak itu. Foto-foto kenangan aku bersama Rakka semasa kita masih jadian dulu dan berbagai macam puisi cinta yang Rakka tuliskan untukku. Hampir saja aku meneteskan air mata kalau saja tidak ada suara dering dari ponselku yang aku letakkan disampingku. Aku menarik nafas menahan agar air mataku supaya tidak terjatuh.

”Kenapa Vi?”
”Sya, barusan Rakka ngirim email ke gue, katanya dia lagi ada di Indonesia sekarang”

            Seperti tersambar petir, tubuhku kaku untuk sejenak. Mungkin aku akan pingsan sekarang.

”Dia di Indonesia?”
“Iya Sya, tadi dia bilang kalo…”
”Sekarang dia ada dimana? Kapan dia ke Indonesia? Apa dia bakalan balik lagi ke Amerika? Kapan dia balik? Terus..”
”Sya, pleas gue belum selesai ngomong. Jangan motong seenaknya dong. Nanti tenggorokan lo bisa kena radang”

            Lagi-lagi Via kena syndrom tahayulnya. Sejak kapan menyela omongan orang bisa kena radang. Dijamin kalo via mengambil jurusan kedokteran di tes pertama dia akan terdepak begitu saja, untung saja dia mengambil jurusan musik sama sepertiku.

”Oke, gue minta maaf. Sekarang cepet lo ceritain tentang Rakka yang ngirim e mail ke lo”
“ Jadi, tadi siang itu Rakka ngirim email ke gue. Tapi gue baru buka sekitar 15 menit yang lalu, dia bilang dia lagi di Indonesia dan katanya dia pingin ketemu sama gue besok”
”Terus? Terus?”
”Tapi sayangnya gue gak bisa. Besok cowok gue ngajak jalan pulang dari kampus”
”Dia.. gak nanya soal gue?”
“Eee… sayangnya sih enggak. Eh Sya udah dulu ya, ada panggilan masuk. Kayaknya cowok gue nelfon nih. Bye bye”

            Oh lord. Viaaaa bisa gak sih lo ninggalin cimit cimit lo itu bentar aja. Sudah 1 tahun ini Via  dekat dengan salah satu anak jurusan Hukum di kampus kami. Jurusan hukum yang diambilnya membuat Via jatuh hati padanya. Entah sejak kapan Via sangat tergila-tergila dengan anak hukum. Mereka sudah jadian dari 5 hari yang lalu. Tapi sampai sekarang Via masih merahasiakan pacarnya itu dariku. Alasanya sih katanya pamali kalo belum seminggu jadian udah dikenalin. Tahayul again!

*****


Tanggal 18 agustus. Ya. Hari ini hari jadi aku dan Rakka yang ke3 tahun, jika kami belum putus tentunya. Mengingat obrolan aku dengan Via tadi malam akankah hari ini aku bertemu dengan wajah tampan itu lagi. Hhhh andai Via menyetujui ajakan Rakka untuk bertemu dengannya, mungkin aku akan ikut demi bisa bertemu dengan Rakka lagi.

Dengan malas ku langkahkan kakiku kembali menuju kelas. Padahal aku sudah sangat ingin pulang, merebahkan tubuh dikasur big sizeku. Tapi  kenapa Bisa aku meninggalkan tugas skripsiku begitu saja di kolong mejaku. Langkah kakiku memelan saat melihat seorang pria yang sedang tertidur diatas meja Via. Meja via memang tidak jauh dariku hanya berjarak 1 meja, Via duduk paling depan sedangkan aku duduk diurutan ketiga dari depan. Wajah pria itu ditenggelamkan kedalam lenganya yang sedikit berotot sehingga aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi sepertinya itu pacar barunya Via yang tempo hari sering dia ceritakan. Lalu untuk apa dia disini? Menunggu Via sampai tertidur lelap begitu? Ku abaikan rasa penasaranku itu walaupun sebenarnya aku sangat penasaran dengan pacar Via itu, jangankan wajahnya namanyapun aku tidak tahu. Tapi demi tidur siang yang nyenyak aku buru-buru menuju mejaku, malihat ke arah loker meja dan mengambil tugas skripsiku lalu melangkah pergi. Tapi..

HUP!, sebuah tangan tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku dengan sigap. Ku alihkan wajahku kearah tangan tersebut. Oh lord! Wajah tampan itu. Dia.. dia....

”Miss you”

Rakka aditya! Demi Dewi Fortuna, akhirnya aku bisa mendengar suara itu lagi. Mata huzle itu langsung menarik perhatianku. Dan untuk selanjutnya seperti drama. Tangan yang digenggam erat, mata yang saling menatap penuh kerinduan, lalu tanpa aba-aba tubuh ini sudah di titah untuk mendekap kedalam pelukan diantara lengan yang berotot itu.

” Kita balikan. Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu lagi. Aku akan pindah ke Indonesia, sekolah disini, dikampus ini bareng sama kamu. Dan tahun depan setelah aku lulus dan mendapat saham dari ayah aku, aku ingin kamu jadi Nyonya Aditya, jadi pendamping hidup aku”

            Aku menatapnya tak percaya. Takdir. Kau sangat hebat. Terimakasih karna sudah mengembalikan pangeran tampanku ini, terimakasih atas ujiannya selama 2 tahun ini. Dan big thanks buat akhir kisah yang begitu sweet ini. Terlihat seperti drama? Memang. Tapi ini bagian Dari takdirku. Sudah kubilang takdir akan membuat hidupmu seperti drama. Dan sebagian besar itu adalah takdir dalam hal Cinta. Coba perhatikan dan rasakan apakah takdir Cintamu akan terlihat seperti drama? Aku berani taruhan jawabannya pasti Iya!