Minggu, 19 Januari 2014

Terlambat



Sore itu ditepi jalan kota Jogjakarta, kita bertemu. Kau dengan gayamu yang sangat misterius tapi masih terkesan mempesona. Kau diam ditempatmu, tak sepatah katapun kau ucapkan. Sunyi.. sepi.. membosankan!. Tapi tatapan mata itu, kenapa begitu menarik? Tatapan yang sulit diartikan tapi terlihat tak asing. Apa aku mengenalmu? 3 detik... 4 detik.. 5 detik. Kau berbalik. Kau membelakangiku. Kau menjauh dan pergi. Kau meninggalkanku?

            1 hari setelah kejadian itu, aku belum bisa melupakanmu. Ada rasa dimana aku begitu nyaman saat menatap kedua manik mata milikmu Aku ingin bisa bertemu denganmu lagi. Untuk itulah aku disini, di tempat yang sama, berharap dapat bertemu denganmu. Dan Tuhanpun mendengar isi hatiku. Kita dipertemukan kembali ditempat ini. Kau menatapku lagi, tapi kali ini dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini kau menatap dengan penuh lebut. Manik mata itu seakan menyimpan sejuta kerinduan. Cukup lama. Sampai akhirnya kau tersenyum kepadaku. Oh Tuhan, itu senyuman terindah yang pernah ku lihat.

            Kau berjalan kearahku. Mendekat.. mendekat.. semakin mendekat. Dan.. demi Tuhan! Apa yang kau lakukan? Memelukku ditempat umum seperti ini? Hey.. kau sudah gila? Tapi.. apa ini? Aku menikmatinya? Terlepas! Apa? Secepat itu berakhir? Ah sayang sekali, padahal aku begitu nyaman didalam dekapannya.

”Hey Vita, long time no see ya”

            What? Tunggu. Dia tau namaku? Apa dia seorang peramal?

“Ingat aku?”

            Kau? Siapa kau? Aku tidak mengenalmu.

“Sudah ku duga, pasti kamu lupa. Aku Reyhan! Sahabat kamu dari kecil yang pindah ke Australia, rememba?”

”Rey?”

`           Apa itu benar-benar kau? Reyhan sahabatku dari kecil? Si cowok gembul yang hobi makan dan suka banget sama permen kapas yang di jual di kios kios kecil dipinggaran trotar jalan. Cowok yang berhasil menjadi cinta pertamaku. Apa itu benar-benar kau? Tapi.. tapi.. tapi..

”Berbeda? Hahaha.. semenjak di Australia aku diet abis-abisan. Sebisa mungkin aku jauhin hobi makanku termasuk jauhin si merah muda yang manis itu. Alhasil aku jadi cowok yang super tampan seperti sekarang. Ya.. beda beda tipis lah sama si aktor korea itu, siapa namanya? Lee.. Lee.. ah pokoknya si dia.”

            Ah, itu benar Reyhan, sahabatku yang sudah menjelma jadi cinta pertamaku. Ternyata hanya tampilannya saja bak aktor korea tapi sifatnya masih sama seperti pelawak indonesia yang selalu garing dalam setiap bercandaannya. Rey.. aku kangen banget sama kamu. Kamu tahu?

”Kamu apa kabar Vit?”

”Aku baik. kamu sendiri gimana kabarnya? Kok gak kasih kabar apa-apa sih kalo mau dateng ke Indonesia”

”Aku baik. aku sengaja gak ngabarin kamu biar jadi kejutan buat kamu. Dan kayaknya kejutannya sukses ya?”

            Iya. Sangat sukses. Kau selalu pandai dalam membuat kejutan Rey. Kau ingat? 7 tahun yang lalu saat kita masih duduk di kelas 2 SMP kau memberiku kejutan dengan tiba-tiba pindah ke Australia saat aku mulai menganggapmu lebih dari sahabat. Kau pergi begitu saja meninggalkanku dengan perasaan cinta yang belum sempat aku katakan. Tapi sekarang kau sudah kembali Rey. Dan akan kupastikan kalau kau tidak akan pergi dariku lagi.

”Aku akan meneruskan kuliahku disini. Dan sepertinya aku tidak akan kembali ke Autralia lagi.”

”Bagus deh kalau kamu gak balik kesana lagi, jadinya kan kita bisa sering hangout bareng kaya dulu”

”Segitu pinginnya berduaan sama aku terus ya? Wah, kayaknya kamu mulai ada rasa nih sama aku. Biar aku tebak. Pasti gara-gara tatapan aku kemarin kan? Atau emang dari dulu kamu udah suka sama aku. Ayo ngaku!”

            Iya. Kamu benar Rey. Semua itu benar. Mengapa kau begitu mudahnya menebak isi hatiku. Apa kau benar-benar seorang peramal?

”Hahaha.. tapi itu gak mungkin kan Vit. Kita kan udah sahabatan dari kecil”

            Lalu kenapa? salah kalau aku jatuh cinta sama sahabat aku sendiri? Sekarang kita sudah tumbuh dewasa, bisa saja kan perasaan di masa kecil berubah menjadi lebih istimewa dimasa sekarang? Apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku?

”Em.. Rey... jadi menurut kamu sahabat jadi cinta itu adalah hal yang salah?”

”Gak juga sih, buktinya kakak aku sama suaminya bisa sama-sama sekarang menjalin rumah tangga padahal dulunya mereka kan sahabatan banget”

”Jadi?”

”Jadi? Kamu kenapa sih Vit? Kenapa jadi tiba-tiba aneh gitu?”

”Eee.. gak apa-apa, aku cuma ngerasa ada perasaan yang berbeda dari....”

”Hey! Disini.”

            Hey. Aku belum selesai berbicara. Dan.. siapa dia? Kau memanggilnya? Perempuan cantik itu? Dia siapamu? Hey! Mengapa kau memeluknya dan mencium keningnya? Kalian terlihat sangat mesra. Aku cemburu!

”Vita, kenalin ini tunanganku, Sarah. Sarah kenalin ini Vita sahabat aku dari kecil yang sering aku ceritain ke kamu itu”

            Jadi ini akhirnya? Kau sudah bersamanya, sejak kapan? Aku sudah terlalu lama memendam rasa ini hanya untukmu. menunggumu kembali. Tapi.. kau tetap tidak bisa bersamaku. Kau jahat! Tidak. Aku yang bodoh. Terlalu lama memendam rasa. Tapi apa dayaku? Aku perempuan. Lalu? Apa karna gengsi yang berlebihan? Mungkin. Dan karna itu aku menyesal. Aku patah hati. Terluka. Dan siap untuk terjatuh. Aku terlambat.





(@WindyRahma14)

Sabtu, 28 September 2013

DRAMA in DESTINY



Percaya akan adanya takdir? Jika kau bertanya padaku maka jawabanya adalah Ya! Aku percaya. Lalu percayakah bahwa dari takdir yang kau alami akan membuat hidupmu seakan penuh dengan drama? Dan jawabanku akan sama Ya! Aku percaya.

            Rasanya baru kemarin aku melihat wajah tampan itu, mendekapku, membelai pelan rambutku dan mengecup hangat keningku. Tapi nyatanya wajah tampan dan segala bla bla bla itu sudah pergi dariku sejak 2 tahun yang lalu. 2 tahun yang lalu saat aku masih menikmati indahnya masa SMAku, begitu indahnya karna hadirnya seorang Rakka Aditya. Kita dipertemukan dalam sebuah tabrakan kecil yang menurutku sangat drama, moment tatap-tatapan itu, moment saling melemparkan senyum itu, tidakkah itu sangat drama? Tapi itu bagian dari takdirku. Pertemuan tak sengaja waktu itu yang selanjutnya berkembang menjadi suatu hubungan yang lebih khusus, sampai pada akhirnya tepat dihari kelulusan Rakka meminta untuk putus secara tiba-tiba. Dengan alasan ingin fokus belajar di salah satu universitas dinegri paman Sam itu. Tentu saja seorang Rakka Aditya, Kapten tim basket putra, Ketua Osis, Juara umum, tentu ingin mendapatkan sekolah yang layak dan bagus untuk masa depannya. Tapi apa harus sejauh itu? Well, ini semua karna takdir. Takdir yang memisahkan kami berdua, mengakhiri kisah cinta kita seperti layaknya drama.

            Sampai sekarang aku belum bisa melupakannya. Bahkan aku masih selalu menandai kalenderku dengan tanda hati setiap tanggal 18 agustus, hari jadi kita. Kalau bukan karna takdir sialan itu, dua hari lagi aku sudah tiga tahun bersama Rakka. Hhhh aku menghela napas untuk kesekian kalinya.

”Sya... Sya... Marsya!”
”Eh, kenapa Vi?
”Aduh Sya, lagi-lagi lo ngelamun, pleas deh Marsya lo gak mau kan ayam tetangga gue mati lagi”

            Via, dia sahabatku sejak kecil. Seorang cewek yang selalu percaya dengan yang namanya tahayul. Baru kemarin aku kena protes olehnya  karna aku sering melamun sehingga ayam tetangganya mati. Padahal sudah jelas terbukti ayam itu mati karna flu burung. Tapi itulah Via. Tahayul yang kadang-kadang tidak masuk logikapun akan dia percayai. Tapi dia sahabatku dan aku akan menerimanya seburuk apapun sifatnya.

”Rakka lagi?”
”Hah? Eee..”
”Ah, sudah, lupakan! Mau sampai mulut gue berbusa buat nyuruh lo lupain si Rak sepatu itu, lo juga gak bakalan nurutin”
”Namanya Rakka Via, bukan Rak sepatu”
”Terserah”



*****

            Sebuah kotak merah muda aku keluarkan dari laci meja belajarku. Kubuka tutupnya secara perlahan. Aku memandang nanar isi dari kotak itu. Foto-foto kenangan aku bersama Rakka semasa kita masih jadian dulu dan berbagai macam puisi cinta yang Rakka tuliskan untukku. Hampir saja aku meneteskan air mata kalau saja tidak ada suara dering dari ponselku yang aku letakkan disampingku. Aku menarik nafas menahan agar air mataku supaya tidak terjatuh.

”Kenapa Vi?”
”Sya, barusan Rakka ngirim email ke gue, katanya dia lagi ada di Indonesia sekarang”

            Seperti tersambar petir, tubuhku kaku untuk sejenak. Mungkin aku akan pingsan sekarang.

”Dia di Indonesia?”
“Iya Sya, tadi dia bilang kalo…”
”Sekarang dia ada dimana? Kapan dia ke Indonesia? Apa dia bakalan balik lagi ke Amerika? Kapan dia balik? Terus..”
”Sya, pleas gue belum selesai ngomong. Jangan motong seenaknya dong. Nanti tenggorokan lo bisa kena radang”

            Lagi-lagi Via kena syndrom tahayulnya. Sejak kapan menyela omongan orang bisa kena radang. Dijamin kalo via mengambil jurusan kedokteran di tes pertama dia akan terdepak begitu saja, untung saja dia mengambil jurusan musik sama sepertiku.

”Oke, gue minta maaf. Sekarang cepet lo ceritain tentang Rakka yang ngirim e mail ke lo”
“ Jadi, tadi siang itu Rakka ngirim email ke gue. Tapi gue baru buka sekitar 15 menit yang lalu, dia bilang dia lagi di Indonesia dan katanya dia pingin ketemu sama gue besok”
”Terus? Terus?”
”Tapi sayangnya gue gak bisa. Besok cowok gue ngajak jalan pulang dari kampus”
”Dia.. gak nanya soal gue?”
“Eee… sayangnya sih enggak. Eh Sya udah dulu ya, ada panggilan masuk. Kayaknya cowok gue nelfon nih. Bye bye”

            Oh lord. Viaaaa bisa gak sih lo ninggalin cimit cimit lo itu bentar aja. Sudah 1 tahun ini Via  dekat dengan salah satu anak jurusan Hukum di kampus kami. Jurusan hukum yang diambilnya membuat Via jatuh hati padanya. Entah sejak kapan Via sangat tergila-tergila dengan anak hukum. Mereka sudah jadian dari 5 hari yang lalu. Tapi sampai sekarang Via masih merahasiakan pacarnya itu dariku. Alasanya sih katanya pamali kalo belum seminggu jadian udah dikenalin. Tahayul again!

*****


Tanggal 18 agustus. Ya. Hari ini hari jadi aku dan Rakka yang ke3 tahun, jika kami belum putus tentunya. Mengingat obrolan aku dengan Via tadi malam akankah hari ini aku bertemu dengan wajah tampan itu lagi. Hhhh andai Via menyetujui ajakan Rakka untuk bertemu dengannya, mungkin aku akan ikut demi bisa bertemu dengan Rakka lagi.

Dengan malas ku langkahkan kakiku kembali menuju kelas. Padahal aku sudah sangat ingin pulang, merebahkan tubuh dikasur big sizeku. Tapi  kenapa Bisa aku meninggalkan tugas skripsiku begitu saja di kolong mejaku. Langkah kakiku memelan saat melihat seorang pria yang sedang tertidur diatas meja Via. Meja via memang tidak jauh dariku hanya berjarak 1 meja, Via duduk paling depan sedangkan aku duduk diurutan ketiga dari depan. Wajah pria itu ditenggelamkan kedalam lenganya yang sedikit berotot sehingga aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi sepertinya itu pacar barunya Via yang tempo hari sering dia ceritakan. Lalu untuk apa dia disini? Menunggu Via sampai tertidur lelap begitu? Ku abaikan rasa penasaranku itu walaupun sebenarnya aku sangat penasaran dengan pacar Via itu, jangankan wajahnya namanyapun aku tidak tahu. Tapi demi tidur siang yang nyenyak aku buru-buru menuju mejaku, malihat ke arah loker meja dan mengambil tugas skripsiku lalu melangkah pergi. Tapi..

HUP!, sebuah tangan tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku dengan sigap. Ku alihkan wajahku kearah tangan tersebut. Oh lord! Wajah tampan itu. Dia.. dia....

”Miss you”

Rakka aditya! Demi Dewi Fortuna, akhirnya aku bisa mendengar suara itu lagi. Mata huzle itu langsung menarik perhatianku. Dan untuk selanjutnya seperti drama. Tangan yang digenggam erat, mata yang saling menatap penuh kerinduan, lalu tanpa aba-aba tubuh ini sudah di titah untuk mendekap kedalam pelukan diantara lengan yang berotot itu.

” Kita balikan. Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu lagi. Aku akan pindah ke Indonesia, sekolah disini, dikampus ini bareng sama kamu. Dan tahun depan setelah aku lulus dan mendapat saham dari ayah aku, aku ingin kamu jadi Nyonya Aditya, jadi pendamping hidup aku”

            Aku menatapnya tak percaya. Takdir. Kau sangat hebat. Terimakasih karna sudah mengembalikan pangeran tampanku ini, terimakasih atas ujiannya selama 2 tahun ini. Dan big thanks buat akhir kisah yang begitu sweet ini. Terlihat seperti drama? Memang. Tapi ini bagian Dari takdirku. Sudah kubilang takdir akan membuat hidupmu seperti drama. Dan sebagian besar itu adalah takdir dalam hal Cinta. Coba perhatikan dan rasakan apakah takdir Cintamu akan terlihat seperti drama? Aku berani taruhan jawabannya pasti Iya!

Jumat, 02 Agustus 2013

KELABU



 Malam minggu yang suram. Seorang gadis duduk terdiam di samping meja belajarnya, menatap layar handphonenya dengan tatapan penuh harap. Berharap pujaan hatinya menghubunginya setelah seharian ini tidak ada kabar. Ya. Malam ini malam minggu, malam yang entah sejak kapan menjadi malam ’wajib’ bagi insan manusia yang sedang menjalin asmara. Lalu kenapa? apa setiap pasang kekasih harus melewati malam ’wajib’ itu dengan suka cita? Kurasa tidak. Ya... setidakmya itu yang akan dikatakan Agni, gadis yang sudah hampir setahun ini menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Cakka. Entah karena alasan apa Agni bisa jatuh cinta dengan pria itu. Sudah puluhan... tidak, bahkan sudah ratusan kali Via, sahabatnya selalu menasehatinya bahwa Cakka bukanlah pria yang pantas untuknya. Pria itu benar-benar seperti patung tak berseni. Selalu terkesan dingin, cuek, diam, bila diajak berbicara dengan Agni. Via sendiri bingung mereka berdua berstatus pacaran tapi tidak seperti orang pacaran. Tidak pernah Via melihat mereka berdua jalan sambil bermesaraan atau hanya sekedar bergandengan tangan. Menurutnya Cakka hanya akan membawa Agni kedalam dunia cinta yang kelabu.

            Sudah hampir 1 jam pandangan Agni tak terlepas dari layar handphonenya. Sampai akhirnya benda itu mengeluarkan deringnya.

”Hallo, Cakka? Kamu kemana aja sih? Kenapa seharian gak ada kabarr?, kenapa juga Hpnya selalu gak aktif”, tanya Agni bertubu-tubi

”Hallo, Agni. Aku nelfon Cuma mau ngasih tau kalo besok kita batal jalan.”, ujar Cakka tenang seolah menghiraukan semua pertanyaan Agni barusan

”Tapi Kka..”

”Agni udah dulu ya,  aku lagi ribet nih. Oke, bye” Klik!

Agni menghela napasnya dengan berat. Cakka, pria itu lagi-lagi cuek terhadapnya. Bahkan penantian selama satu jam tadi seolah tidak bermakna apa-apa. Memori tentang ucapan Via mengenai Cakka tiba-tiba saja hadir dalam benak Agni. Agni kembali menghela napasnya.



*****



Senin pagi di SMA Nusantara begitu ramai. Banyak siswa yang terus menampakkan dirinya didepan kelas. Agni terus berjalan menuju kelasnya, menghiraukan hiruk pikuknya gerombolan siswa di sepanjang koridor. XI IPA 2, sebuah kelas yang sudah hampir setahun ini menjadi ’kamar’ Agni bila sedang di Sekolah.

Agni melangkah masuk, senyuman kecil mengembang dibibirnya setelah dia melihat Cakka sedang duduk sendirian di bangkunya sambil membaca sebuah buku.


”Cakka..”, sapa Agni stelah dia berada tepat di samping Cakka.

”He’emm...”, sahut Cakka sekenanya.

”Kamu baca apa sih? Serius banget”, tanya Agni sambil mengambil posisi duduk di samping Cakka.

”Baca buku”, jawab Cakka singkat.

”Ya.. aku tau, maksud aku kamu lagi baca buku apa?”, tanya Agni kembali

”Dia lagi baca buku tentang seorang cowok yang gak pernah mengharagai ceweknya”, tiba-tiba Via datang menyambar, memberi sindiran kepada Cakka.

”Via..”, Agni menoleh kearah Via yang kini sudah berdiri disampingnya.

”Udahlah Ag, percuma lo ngajak ngomong patung tak berseni ini, mending lo ikut gue aja, ayo!”, Via menarik paksa tangan Agni, membawanya menjauh dari Cakka.




*****



Sore ini Agni sedang menemani Cakka ke sebuah toko buku. Sebenarnya Cakka menolak untuk ditemani, tapi Agni terus memaksanya untuk turut ikut menemaninya. Dan disinilah mereka, disebuah toko buku yang terbilang cukup besar di daerah Jakarta. Banyak pelajar dari segala sekolah atau universitas yang datang kesini untuk mencari berbagai macam buku.

Ketika mereka sedang asik melihat-lihat beberapa buku, tiba-tiba saja seorang pria mengampiri mereka, menyapa Cakka, merangkulnya dengan penuh semangat. Agni menatapnya penuh dengan rasa tanya. Siapa dia? Merangkul pacarnya dengan seenaknya, dia saja belum pernah dirangkul sama sekali. Agni jadi iri sendiri melihatnya.


”Udah lama ya Kka gak ketemu, gimana kabar lo?”, tanya pria itu setelah melepas rangkulannya

”Baik, Lo sendiri gimana Vin?”, Tanya Cakka balik

“Baik juga. Eh siapa tuh Kka? Pacar lo ya?”, pandangan pria itu kini beralih ke Agni yang sudah sedari tadi merasa dicuekin.

”Oh.. bukan. Dia Cuma temen gue”. jawab Cakka.

Apa katanya? Cuma temen? Agni bersumpah saat itu juga dia ingin melempar buku yang sedang dipegangnya ke muka Cakka. Hanya saja dia masih tau diri, ini toko buku dan dia gak mau membuat keributan disini.

”Ooh, kirain. Eh Kka sorry ya, gue udah harus balik nih, seneng bisa ketemu lo lagi. Gue duluan ya...”, pamikt pria itu kepada Cakka dan Agni.


”Yang tadi itu siapa?, temen kamu?’, tanya Agni setelah mereka keluar dari toko buku tersebut

”Iya, namanya Alvin, dia temen aku waktu SMP dulu”, jawab Cakka

”Terus.. kenapa kamu tadi bilang kalo aku Cuma temen kamu, kamu gak ngakuin aku
sebagai pacara kamu? Ha?”, emosi Agni mulai memuncak              

”Aku gak mau aja ada brita yang macem-macem nanti” jawab cakka tenang

”Brita apa sih Kka..?”, tanya Agni dengan penuh emosi, matanya sudah mulai berkaca-kaca

”Udah ag gak usah dibahas, udah siang ayo pulang”, ujar Cakka yang langsung menarik paksa pergelangan tangan Agni.



*****


Hujan. Lagi lagi suatu keadaan yang membuat Agni bosan. Hanya bisa duduk di kamarnya menatap halaman luar lewat kaca-kaca jendela yang dingin. Agni mengambil handphonenya mengetik beberapa kata disana dan menekan tombol ’send’. Sesaat kemudian handphonenya berbunyi, tertera nama Via di layarnya.

”Agni.. lo kenapa lagi?”, tanya Via dari sebrang telfon

”Eeee.. gapapa koq Vi..”, jawab Agni bohong
”Jangan bohong deh, gak mungkin gak ada apa-apa kalo tiba-tiba lo sms gue suruh nelfon lo malem-malem gini, ada apa sih?”, tanya Via lagi yang makin penasaran dengan sahabatnya yang satu ini

”Cakka Vi...”, Agni mulai bersecerita suaranya sedikit serak menahan tangis

”Cakka? Bikin ulah apa lagi patung tak berseni itu? Ha?”, tanya Via emosi

”Aaaa.... Via... gue benci banget sama dia...”, tangis Agni mulai pecah

”Ag..”

” lo tau gak sih, tadi siang itu dia ketemu sama temen lamanya, dan lo tau? Dia gak ngakuin gue sebagai pacarnya di hadapan temennya itu....”

”Agn..”

”pas gue tanya kenapa dia gak mau jawab, dia malah maksa ngajak gue pulang.. aaaa...”

”AGNI!, denger gue! gak usah nanagisin patung tak berseni itu! putusin dia sekarang juga! Oke?”, perintah Via

”Tapi Vi..”

”Gak ada tapi-tapian, dia itu gak jelas beneran cinta sama lo atau gak, sadar gak sih lo? Dulu pas pertama kali nembak itu lo kan? Dengan kondisi yang gak ada romantis-romantisnya sama sekali, lo nyatain cinta lo di depan dia saat dia lagi baca buku, bahkan dia Cuma jawab iya tanpa ngalihin pandangannya ke lo. Sadar dong ag.. dia itu kelabu banget buat lo, udah pokoknya lo harus putusin dia!” –Klik- Via memtuskan telfonya begitu saja

Agni masih terisak dalam tangisnya, ucapan Via barusan terus terulang dalam benaknya, apa dia harus menuruti printah Via untuk memutuskan Cakka? Atau dia akan terus bersabar demi cintanya kepada Cakka? Tapi ini sudah hampir satu tahun dan Cakka masih tetap sama.. Ya Via benar Cakka itu sanagat kelabu untuknya. Agni kau sangat bodoh!


*****



Hari ini bel pulang sekolah dua jam lebih cepat berbunyi dari biasanya. Alasanya sih karna semua guru sedang mengikuti rapat tahunan. Agni. Gadis itu kini telah berdiri disamping sebuah motor cagiva berwarna putih milik Cakka. Seperti biasa dia akan diantar pulang oleh Cakka. Selama perjalanan, Agni terus memikirkan ucapan Via tadi malam.

”Ka, bisa berhenti sebentar di taman yang depan gak?’, pinta Agni

”Mau ngapain?”, tanya Cakka

”Aku mau ngomong sebentar”

Cakka menurutinya, dia memberhentikan motornya tepat didepan taman kota yang kebetulan sedang sepi. Sepasang kekasih itu kini telah duduk di salah satu bangku taman yang bentuknya memanjang yang di cat dengan warna putih.

”Mau ngomong apa?” tanya Cakka langsung

”Aku.. aku.. aku mau.....”

”Sebentar, Hp aku bunyi”, tiba-tiba saja Handphone Cakka berbunyi. Panggilan  masuk. Dasar! Apakah si penelfon tidak tau situasi? Ya. Tentu saja tidak tau.

”Hallo... oh iya Ray, kenapa?.... sekarang?..... oke, tunggu ya....” –klik- , Cakka mematikan handphonenya dan beralih kepada Agni lagi

”Ag, kita pulang sekarang ya, aku ada janji sama Ray, ayo..”, cakka menarik tangan Agni mengajaknya untuk pulang

”Aku mau kita PUTUS!”, ucap Agni sedikit berteriak sambil menepis tarikan tangan Cakka

”Ag...”

”Aku capek Kka.. kamu selalu nganggep aku gak ada, ini udah hampir satu tahun, kamu gak ada perubahan, masih tetep sama. Cakka yang dingin, cuek, yang gak jelas cinta sama aku atau gak. Sebenenya aku selama ini selalu sabar nanggepin sikap kamu itu karna aku tulus cinta sama kamu dan aku percaya kamu akan bisa berubah, tapi nyatanya... bener kata Via, kamu itu patung tak berseni yang sangat kelabu”, tangis Agni pecah sudah, dua sungai kecil sudah mengalir membasih pipinya.

”kalau emang itu mau kamu, aku turutin.. kita putus”

Agni tercekat. Segitu gampangkah Cakka setuju dengan keputusan Agni barusan? Apa pria itu benar-benar tidak mencintainya? Lalu selama hampir satu tahun ini.. untuk apa semua itu? Agni terdiam dan masih terus menangis

”udah jangan nangis, aku anter kamu pulang sekarang, ayo”, Cakka kembali meraih tangan Agni. Tapi kemudian Agni menepisnya lagi

”Gak usah! Aku mau pulang sendiri”, ucap Agni ketus. Dia mengelap air matanya dengan kasar dan melangkah pergi meninggalkan Cakka.


Ya. Mungkin inilah yang terbaik untuk Agni. Melepas cintanya yang penuh dengan ketidakpastian. Agni menarik napasnya panjang dan membuangnya sambil memaksakan senyum dibibirnya.

”Selamat tinggal patung tak berseniku.. selamat tinggal Cinta kelabuku..”                 






-FIN-

Jumat, 28 Juni 2013

Hidup Bersama Waktu






Detakan jarum jam terus berjalan

Memutar seakan tanpa henti

Seolah tak mau tahu

Lelahnya aku dalam hidup

Bersama waktu



Terus berjalan.. kemudian berlari

Terkadang sedikit melompat

Sampai akhirnya terjatuh

Terus begitu dan selalu begitu



Ingin rasanya aku diam

Diam seperti patung

Hanya menjadi penonton

Bukan sebagai pelakon



Aku lelah... sangat lelah...

Hidup bersama waktu

Yang terlalu cepat berjalan

Membawaku meninggalkan

Sejuta kenangan...











~Windy Rahma~



28 Juni 2013

Senin, 17 Juni 2013

January's Love

Sebelumnya mau minta maaf apabila ada kesamaan tokoh, ide cerita, setting, dll... . gue gak pandai bikin cerita. tapi nikmatin aja ya bacanya. sebelumnya gue udah ngepost bagian awalnya. Sorry kalo hasilnya mengecewakan... So.. ini Dia......








(1 Januari 2013)

Malam ini hujan turun dengan lebat. Aku berdiri disebuah halte tempat biasa aku menunggu bus untuk pulang. Saat itu jalanan sedang sepi, mungkin karena pengaruh waktu yang sudah menunjukan pukul 11 malam. Kuliah malam dan banyaknya tugas yang menuntutku pulang selarut ini. Begitu hening dan dingin, sedikit kekhawatiranku kalau saja tidak ada lagi bus yang beroperasi. Aku melangkahkan kakiku kedepan beberapa langkah melihat kearah kananku untuk memastikan akan ada bus yang lewat. Tapi hasilnya nihil. Lalu aku kembali melangkahkan kakiku kebelakang dan ”Arrgh” teriak seorang pria. Dengan perasaan takut dan berhati-hati aku mulai menoleh kearah belakangku. Dang Binggo! Aku melihat seorang pria yang sudah sangat aku kenali. Dia tampan, tinggi, berkulit putih, rambutnya sedikit acak-acakan tapi terkesan cool. Dia Cakka, pria yang sudah sangat terkenal di kampus kami karna kepopulerannya sebagai kapten tim basket sekaligus sebagai anak dari seorang pengusaha hotel ternama di Indonesia. Lalu untuk apa dia berada disini? Menunggu bus juga? Kurasa tidak. Dia selalu membawa kendaraan mewahnya kekampus. Lalu kemana kendaraannya itu sekarang? Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di benakku saat melihat Cakka di halte ini.

”Ups! Sorry’, aku langsung mengangkat kaki kananku yang tak sengaja menginjak kaki Cakka

”Sendirian?”, tanyaku lanjut

”Liatnya?”, tanya Cakka balik. Pandangannya tidak lepas dari jalanan didepan

”Ya sendirian sih”

”Yaudah itu tau”

Aku berani bersumpah, pria ini benar-benar menyebalkan. Apa harus sedingin itu menjawab pertanyaanku.

Suasana hening, tidak ada lagi percakapan diantara aku dan Cakka, malas juga kalo harus mulai mengajaknya ngobrol lagi. Itu sama saja masuk kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

”Lo Agni kan?”, tiba-tiba Cakka memulai pembicaraan. Kaget juga mendengarnya bicara duluan terlebih lagi dia tau namaku

”Eh.. iya, gue Agni”

”Oooh..”

Kembali hening

“Koq Lo kenal gue?” tanyaku penuh selidik

“Penting gue jawab?”

“Gak, gak usah di jawab”, aku mendengus kesal.

Kembali hening. Oh God ciptaanmu yang satu ini benar-benar sangat dingin dan menyebalkan. Bahkan kamipun tidak saling menatap saat kami berbicara. Hanya sibuk dengan tatapan masing-masing yang entah menatap apa di depan sana.

”Gue suka Sama lo!”, kata Cakka tiba-tiba. Masih dingin.. dan masih tidak menatapku
Jujur saja, aku sangat terkejut mendengarnya

”Jangan bercanda”. Ucapku tenang

”Serius”

”Gue bilang jangan bercanda”

Tidak ada jawaban dari Cakka. Aku meliriknya. Dia menundukan kepalanya entah karena apa.

”Gue duluan”, tiba-tiba Cakka pergi begitu saja menerobos lebatnya hujan di jalan. Sebenarnya apa yang terjadi pada anak itu.


(8 Januari 2013)


Sudah seminggu ini aku tidak melihat keberadaan Cakka di kampus. Bahkan aku juga tidak bisa menemukannya di lapangan basket tempat biasa dia berkumpul bersama teman-temanya.  Kemana anak itu? Apa ada sangkut pautnya dengan kejadian waktu malam itu?

Hari ini dan sebulan kedepan aku kuliah pagi. Kebetulan butik baju tempat biasa aku bekerja sedang mengalami renovasi, jadi seluruh karyawan diliburkan. Ya. Sudah setengah tahun ini aku bekerja di butik baju dekat kos-kosanku. Aku memilih kerja part time untuk tambahan uang kuliah dan untuk mengisi waktu luang.


*****


waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Berarti sudah dua jam aku berada di perpustakaan kampus. Aku memang sering kesini untuk membaca sejumlah buku. Dari kecil aku memang sangat suka membaca mungkin itu sebabnya aku selalu mendapat peringkat yang baik dikelas. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju pintu keluar kampus. Ah ternyata hujan turun lagi dan sialnya aku lupa membawa payung.

”Belum pulang?” tanya seseorang tiba-tiba dibelakangku. Familiar suaranya, berat dan terkesan cool.

”Cakka!”, seruku kaget

”Belum pulang?”, tanyanya ulang

”Em.. belum. Hujan, gue lupa bawa payung”

”Cuma hujan biasa, gak deres”

”Tapi tetep aja bisa bikin gue basah”

”Takut basah?”

”Eh....”

”Cih Dasar kucing”

Aku menyesal bertemu dengan Cakka. Mengapa dia tidak hilang lebih lama lagi. Aku benar-benar malas berhadapan dengan sikap dinginnya itu.

”Gue anter”

”Gak usah”

”Gratis”

”Gue bilang gak usah, lo maksa bang.... Eeeeeh... mau di bawa kemana gue?”

Tiba-tiba Cakka menarik tanganku, dan membawaku ke sebuah motor cagiva putih yang sedang terpakir di depan kampus

”Naik!”, perintahnya

”Gak!”

”Keras kepala”

”Lo juga..
Aaaa... Cakka lepasin gue”.

Pria ini benar-benar menyebalkan. Aku sudah bilang aku tidak mau naik. Dia malah menggendongku dan langsung mendudukkanku tepat di jok belakang. Cih! Dia benar-benar menyebalkan.

Cakka mengendarakan motornya dengan sangat cepat. Padahal hujan masih belum berhenti, tetapi Cakka tetap nekat mengendarakan motornya menerobos lebatnya hujan. Cakka.. kau benar-benar sudah gila.

”Turun”

”Hah? Apa?”

”Turun, udah sampai”

Akupun turun dari motor Cakka dan mulai menatap bangunan di depanku ini.

”Ini tempat apa Kka?”

”Lo gak bisa baca?”. Cakka menunjuk ke sebuah papan yang terpasang didepan bangunan itu.

”Rumah Pelangi”, ucapku sambil menatap papan yang ditunjuk Cakka.

”Ayo masuk, hujannya makin deres”, ajak Cakka yang mulai melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.

”Cih apa-apan itu? Dari tadi udah hujan kali, udah keburu basah baju gue. baru disuruh neduh sekarang. Dasar wong edan”, bisikku

”Gue denger”, teriak Cakka yang sudah hampir tiba di depan teras rumah tersebut.

Aku mulai mengikuti Cakka untuk masuk ke rumah itu. Rumahnya sederhana, tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku. Didepan rumah itu ada halaman yang cukup luas. Terlihat sebuah rumah pohon yang dibawahnya terdapat sebuah ayunan dari rotan yang cukup untuk dua orang. Juga ada beberapa bangku dan meja taman di sampingnya. Semua di cat dengan warna senada, warna pelangi. Mungkin itu sebabnya rumah ini disebut rumah pelangi. Tapi.. rumah siapa ini? Apa Rumah Cakka? Tapi apa mungkin seorang Cakka yang berasal dari keluarga kaya raya memiliki rumah sesederhana ini?


”Ka Cakka..!”. seorang anak perempuan tiba-tiba keluar dari rumah itu dan langsung berlari kearah Cakka.

”Haay.. Angel, gimana keadaan kamu? Udah gak sakit kan?”

Kulihat Cakka begitu akrab dengan anak itu. Sikap dinginnya yang menyebalkan itu tiba-tiba lenyap entah kemana. Saat itu Cakka benar-benar terlihat berbeda.




*****


Ku ayunkan kakiku perlahan, ku biarkan tubuhku bergerak mengikuti gerak ayunan rotan yang kini aku duduki. Hujan telah berhenti. Ku pejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma hujan yang menyejukkan. Sangat menenangkan.

”Udah mau malem. Ayo pulang”. Suara itu lagi, menggangguku lagi. Cakka benar-benar tidak bisa melihatku senang sebentar

”Sebentar lagi”, sahutku malas dengan masih memejamkan mata.

Suasana begitu hening. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian di halte seminggu yang lalu. Sama seperti ini. Hening dan dingin. Perlahan kubuka mataku dan sedetik kemudian aku tiba-tiba lupa bagaimana cara bernafas. Wajah tampan itu kini benar-benar ada di hadapanku. Sangat dekat. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Hening.. sangat hening. Hanya sibuk dengan pikiran masing-masingu untuk mencari arti dari tatapan mata yang hangat itu.

”Eh sorry”, dengan sekejap Cakka menjauhkan dirinya dariku. Sedikit salah tingkah rupanya. Sangat lucu.

”Jadi... udah berapa lama lo jadi relawan buat anak-anak itu?”. tanyaku untuk sedikit mencairkan suasana.

”Udah dua tahun.”

Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Tadi sebelum hujan reda saat kami berada di dalam rumah Pelangi, Cakka menjelaskan kepadaku bahwa rumah pelangi ini adalah rumah yang Cakka beli untuk membantu memperbaiki hidup anak-anak jalanan yang tinggal disini. Cakka juga sering membawakan makanan, pakaian, bahkan buku-buku untuk mereka. Cakka juga menjelaskan atas kehilangannya yang tiba-tiba beberapa hari yang lalu itu disebabkan karena Angel sakit. Jadi cakka memutuskan untuk tidak kuliah sebentar untuk merawat Angel. Awalnya aku sempat tidak percaya dengan Ucapan Cakka. Tapi setelah mendengar pernyataan anak-anak dirumah pelangi yang bercerita betapa baiknya Cakka, kini aku jadi percaya.


(18 Januari 2013)


Sudah seminggu lebih aku membantu Cakka untuk mengurusi anak-anak di rumah pelangi. Dan sudah seminggu lebih pula hubunganku dengan Cakka semakin membaik. Cakka benar-benar membuatku kagum akan sikapnya yang seperti malaikat bila didekat anak-anak itu.


*****


”Waktu malam itu...”, tiba-tiba Cakka membuka suara. Membuatku menghentikan gerakan ayunan rotan yang sedang aku naiki. Aku menoleh kearahnya. Menatapnya penuh rasa tanya.

”Lo belum ngasih jawaban”, lanjutnya

”Jawaban apa?”

”Cih, Dasar pikun!”

Aku mendengus kesal

”Ag..” tiba-tiba Cakka turun dari ayunan disebelahku dan langsung berlutut didepanku sambil menggenggam tanganku.

”Ag.. gue bukan seorang aktor yang suka acting di depan orang banyak. Gue juga bukan pelawak yang selalu bercanda dalam setiap ucapannya.. Ag.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo”

Ku pandang  wajah tampan itu. Sorot matanya penuh dengan keyakinan. Sepertinya aku akan menarik kata-kataku tempo lalu yang bilang kalau Cakka bercanda. Saat ini aku benar-benar melihat kejujuran Cakka tentang perasaannya padaku.

”Tapi Kka... kenap...” belum selesai aku berbicara Cakka langsung memotongnya

”Gak butuh alasan Ag.. buat gue jatuh cinta sama lo.. karna gue gak mau suatu saat nanti kita berpisah karna suatu alasan juga”

Aku terkesima dengan ucapan Cakka barusan. Ku tatap matanya lekat-lekat. Sedetik kemudian aku tersadar dan langsung melepaskan tanganku dari genggaman Cakka.

”Kasih gue waktu untuk berfikir”

”Oke, gue tunggu. 26 januari nanti saat ulang tahun gue. Di sini, ditempat yang sama”

Aku mengangguk tanda setuju.


(21 januari 2013)


Pagi ini rasanya aku malas sekali pergi ke Kampus. Sudah ada dalam niatku aku akan bolos kuliah mungkin selama dua atau tiga hari ini. Sudah 3 hari ini hubungan ku dengan Cakka menjadi sedikit canggung. Aku selalu ingin menghindar bila berhadapan dengan Cakka di Kampus atau di Rumah Pelangi. Sejujurnya aku masih sangat bingung dengan perasaanku kepada Cakka. Itulah sebabnya aku selalu merasa tidak siap bila bertemu dengan Cakka.

Ku langkahkan kakiku keluar kos-kosanku berniat untuk bolos ke kampus dan pergi ke toko buku yang biasa aku datangi. Berharap disana aku tidak menemukan keberadaan Cakka. Saat aku membuka pintu kosanku aku menemukan setangkai bunga mawar putih. Ku ambil mawar itu dan membaca kartu ucapan berwarna merah muda yang di lekatkan bersamaan dengan mawar tersebut.

”Gue tau hari ini atau bahkan besok lo pasti gak pergi ke Kampus. maaf udah bikin lo gak nyaman sama kehadiran gue. Tapi gue harap besok siang lo bisa dateng ke Rumah Pelangi. Besok Angel ulang tahun. gue gak mau dia sedih kalo lo gak dateng”

-Cakka-

Aku menghela nafas, tapi aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Lagi-lagi Cakka melakukan sesuatu yang tak aku duga sebelumnya. Bagaimana dia bisa tau niatku yang ingin bolos kuliah.

”Romantis”, ucapku



(22 Januari 2013)


Hari ini tepat Angel berusia 8 tahun. Pesta sederhana di adakan di halaman Rumah Pelangi. Terlihat anak-anak sangat menikmati pestanya tak terkecuali Angel. Senyumnya tidak pernah pudar selama pesta berlangsung. Terlihat juga Cakka sangat sangat bahagia karna kerja kerasnya untuk menyiapkan pesta ulang tahun Angel tidak sia-sia. Cakka. Ya hari ini aku bertemu dengannya setelah beberapa hari yang lalu aku selalu menghindar darinya.


”Minum?”. Cakka menawarkan segelas sirup kepadaku

”Tanks”. Ucapku sambil menerima segelas sirup tersebut

”Lama gak ketemu sama lo Ag...”

”Kenapa? kangen? Hahaa...”, candaku

”Iya”

Aku langsung terdiam setelah mendengar jawaban cakka barusan. Aku tidak mengira dia akan seserius itu menanggapi pertanyaanku yang terkesan hanya bercanda. Suasana berubah menjadi hening. Aku tau saat ini Cakka sedang memperhatikanku. Tapi aku tidak berani menoleh kearahnya atau mengajaknya berbicara. Kemudian cakka tiba-tiba berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri di bangku taman ini. Aku menoleh ke samping dan menemukan mawar putih dilengkapi dengan kartu ucapan berwarna merah muda sama persis dengan mawar putih yang cakka letakkan di depan pintu kosanku tempo lalu.


4 hari lagi.. Agnia Agista...”

-Cakka-

Lagi-lagi aku tidak bisa menahan senyumku saat membaca isi dari kartu ucapan tersebut.

”Iya Cakka Pratama. I remember”, ucapku pelan.



(25 Januari 2013)


Aku menopang dagu diatas meja taman di halaman rumah pelangi. Besok cakka berulang tahun itu artinya aku sudah harus memutuskan jawaban yang akan aku berikan kepada Cakka. Tapi kemana Cakka? Semenjak acara ulang tahun Angel selesai pada tiga hari yang lalu aku tidak melihat lagi keberadaannya dimanapun. Lagi-lagi dia menghilang secara misterius. Tapi kali ini aku benar-benar merindukan kehadirannya. Aku teringat dengan kejutan-kejuatan manis yang selalu dia buat untukku melalui bunga mawar putih beserta kartu ucapan merah muda yang isinya selalu bisa membuatku tersenyum. Sebuah senyuman tiba-tiba terukir di wajahku saat memikirkannya. Oh apa yang terjadi padaku. Apa aku mulai mencintainya?


”Ka Agni...”, tiba-tiba Angel datang menghampiriku dengan membawa satu rangkaian mawar putih dan sebuah buku berwarna coklat. Seperti buku catatan.

”Buat kakak”, katanya lanjut sambil menyerahkan rangkaian mawar dan buku itu kepadaku

”Dari siapa?”. Tanyaku. Angel hanya menggeleng tak tau

Ku perhatikan rangkaian bunga mawar tersebut. Mengapa tidak ada kartu ucapannya? Siapa yang mengirimnya? Lalu aku mulai membuka buku catatan warna coklat itu. Di dalamnya penuh lukisan wajahku dalam berbagai moment. Di lembaran terakhir buku itu aku melihat sebuah tulisan yang sudah sangat aku kenali.

”Agnia Agista... aku sangat mencintaimu”

-Cakka Pratama-

Aku tidak bisa lagi membendung air mataku setelah membaca tulisan itu. Aku sangat terharu ini benar-benar sangat romantis. Cakka kamu dimana sekarang? Apa kamu tau kalo kamu sekarang sudah bisa mendapatkanku.


(26 januari 2013)

Hari ini aku sangat bersemangat. Cakka.. kamu akan mendapatkan kado terindah dariku. Ku langkahkan kakiku dengan cepat memasuki Rumah Pelangi. Saat aku tiba disana terlihat dengan jelas anak-anak sedang bersedih bahkan sebagian dari mereka ada yang menangis. Apa yang terjadi?

”Ka Agniii...”. angel berlari kearahku dan langsung memelukku sambil menangis

”Angel kenapa? koq nangis?”, tanyaku lembut

”Ka Cakka ... hiks... Ka Cakka udah hiks.. udah gak ada kak.. hiks.. ”, kata angel terbata bata karna menahan tangis

”Angel.. maksud kamu apa? Kakak gak ngerti”. Aku mulai sedikit khawatir atas ucapan Angel barusan. Apa maksudnya Cakka udah gak ada?

Tiba-tiba Kiki datang menghampiriku. Kiki adalah anak yang usianya paling dewasa di rumah pelangi ini. Dia yang menjadi kepercayaan Cakka sebagai penggantinya jika cakka sedang tidak ada di Rumah Pelangi.

”Kak Agni.. tadi pagi sehabis sholat subuh, kami dapat kabar dari orang tua ka Cakka kalo Ka Cakka udah gak ada.. Ka Cakka meninggal karna sakit kanker hati yang di idapnya selama 1 tahun. Selama ini Ka Cakka tiba-tiba menghilang itu karna Ka Cakka lagi di rawat di rumah sakit karna kondisinya sempat drop. Dan pada akhirnya..”

”Stop! Jangan di lanjutin. Kakak gak mau denger apa-apa lagi”. Aku berteriak keras kepada Kiki saat dia menjelaskan apa yang terjadi kepada Cakka.

Lututku lemas, wajahku sudah penuh dengan air mata. Setelah mendapat alamat tempat Cakka di makamkan dari Kiki. Aku langsung berlari menuju kesana. Kebetulan jaraknya tak jauh dari Rumah Pelangi ini.



*****

Aku sudah tiba tepat berada di dapan pemakaman Cakka. Aku melihat banyak karangan bunga yang bertuliskan ”turut berduka cita” yang terpasang di depan pemakaman. Dengan nafas yang terengah-engah aku mulai mendekat kerah kerumunan orang yang baru saja meninggalkan suatu makam. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat batu nisan di makam tersebut yang bertulisakan ’Cakka Pratama’

Aku menangis sejadi-jadinya. Lututku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh lemas saat itu. Aku menatap nanar sebuah batu nisan didepanku itu.

”Cakka.. kenapa lo secepat ini pergi dari gue? Kita udah janji kan? Hari ini... hari dimana lo ulang tahun. lo akan mendengar jawaban dari gue. Apa lo gak mau denger jawaban dari gue Kka? Aku mencintaimu Cakka... aku mencintaimu..”

Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya. Seorang wanita dewasa tiba-tiba ikut berlutut disampingku

”Kamu pasti Agni.. Cakka banyak cerita tentang kamu. Tante sebagai Mamanya Cakka mau ngucapin makasih banyak ke kamu, karena kamu sudah membuat sisa hidup Cakka penuh dengan kebahagiaan”

Aku hanya menatapnya nanar, aku sudah tak mampu lagi berkata-kata.

”Selama ini Cakka selalu menutupi penyakitnya dari orang lain. Terutama dari kamu Agni, dia tidak mau kalau kamu tau dia mengidap penyakit kanker. Kemarin Saat kondisi Cakka benar-benar memburuk. Cakka menyuruh tante untuk mengirimkan rangkaian mawar putih untukmu beserta buku catatan Cakka. Agni... percaya sama tante Cakka pergi bukan untuk meninggalkanmu, dia akan terus mencintaimu Agni..”

Ku alihkan pandanganku ke batu nisan di hadapanku. Aku memeluknya erat sangat erat.

”Aku juga mencintaimu Cakka Pratama”, ucapku sendu


(31 Januari)

Sudah lima hari setelah kepergian Cakka. Kini aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk Rumah Pelangi. Bahkan tak jarang aku menginap disini dan tidak pulang ke kos-kosanku. Hari hariku di Kampus juga tak sesemangat dulu. Aku merindukanmu Cakka. Aku ingin kau kembali.


*****


Ku hela nafasku perlahan. Disini. Di halte ini. Sama seperti ini hujan, sepi dan dingin. Saat aku dan Cakka pertama kali ngobrol lalu tiba-tiba Cakka menyatakan perasaannya padaku untuk pertama kalinya dengan sikap dinginya. Aku tersenyum mengingatnya.

Tiba-tiba seseorang mengajukan setangkai bunga mawar putih di hadapanku. Aku terkejut. Mawar itu.. aku menoleh ke samping. Seorang pria berdiri disana. Tinggi, Putih, Tampan, sama seperti...


”Lo Agni kan?... gue suka sama lo!”




__FIN_

Sabtu, 15 Juni 2013

Januari's Love

Sebenernya rada ragu mau ngepost Cerpen ini. Sumpah ini pertama banget. But... PD aja lah. haha..
Oke sebagai pemulaan. gue cuma ngepost bagian awalnya aja. buat kelanjutannya. Tunggu aja yee... Sip?

dan ini dia... (maaf kalo hasilnya mengecewakan)


 January's Love





(1 Januari 2013)

Malam ini hujan turun dengan lebat. Aku berdiri disebuah halte tempat biasa aku menunggu bus untuk pulang. Saat itu jalanan sedang sepi, mungkin karena pengaruh waktu yang sudah menunjukan pukul 11 malam. Kuliah malam dan banyaknya tugas yang menuntutku pulang selarut ini. Begitu hening dan dingin, sedikit kekhawatiranku kalau saja tidak ada lagi bus yang beroperasi. Aku melangkahkan kakiku kedepan beberapa langkah melihat kearah kananku untuk memastikan akan ada bus yang lewat. Tapi hasilnya nihil. Lalu aku kembali melangkahkan kakiku kebelakang dan ”Arrgh” teriak seorang pria. Dengan perasaan takut dan berhati-hati aku mulai menoleh kearah belakangku. Dang Binggo! Aku melihat seorang pria yang sudah sangat aku kenali. Dia tampan, tinggi, berkulit putih, rambutnya sedikit acak-acakan tapi terkesan cool. Dia Cakka, pria yang sudah sangat terkenal di kampus kami karna kepopulerannya sebagai kapten tim basket sekaligus sebagai anak dari seorang pengusaha hotel ternama di Indonesia. Lalu untuk apa dia berada disini? Menunggu bus juga? Kurasa tidak. Dia selalu membawa kendaraan mewahnya kekampus. Lalu kemana kendaraannya itu sekarang? Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di benakku saat melihat Cakka di halte ini.

”Ups! Sorry’, aku langsung mengangkat kaki kananku yang tak sengaja menginjak kaki Cakka
”Sendirian?”, tanyaku lanjut
”Liatnya?”, tanya Cakka balik. Pandangannya tidak lepas dari jalanan didepan
”Ya sendirian sih”
”Yaudah itu tau”

Aku berani bersumpah, pria ini benar-benar menyebalkan. Apa harus sedingin itu menjawab pertanyaanku.

Suasana hening, tidak ada lagi percakapan diantara aku dan Cakka, malas juga kalo harus mulai mengajaknya ngobrol lagi. Itu sama saja masuk kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

”Lo Agni kan?”, tiba-tiba Cakka memulai pembicaraan. Kaget juga mendengarnya bicara duluan terlebih lagi dia tau namaku
”Eh.. iya, gue Agni”
”Oooh..”

Kembali hening

“Koq Lo kenal gue?” tanyaku penuh selidik
“Penting gue jawab?”
“Gak, gak usah di jawab”, aku mendengus kesal.

Kembali hening. Oh God ciptaanmu yang satu ini benar-benar sangat dingin dan menyebalkan. Bahkan kamipun tidak saling menatap saat kami berbicara. Hanya sibuk dengan tatapan masing-masing yang entah menatap apa di depan sana.

”Gue suka Sama lo!”, kata Cakka tiba-tiba