Percaya akan
adanya takdir? Jika kau bertanya padaku maka jawabanya adalah Ya! Aku percaya.
Lalu percayakah bahwa dari takdir yang kau alami akan membuat hidupmu seakan
penuh dengan drama? Dan jawabanku akan sama Ya! Aku percaya.
Rasanya baru kemarin aku melihat
wajah tampan itu, mendekapku, membelai pelan rambutku dan mengecup hangat
keningku. Tapi nyatanya wajah tampan dan segala bla bla bla itu sudah pergi
dariku sejak 2 tahun yang lalu. 2 tahun yang lalu saat aku masih menikmati indahnya
masa SMAku, begitu indahnya karna hadirnya seorang Rakka Aditya. Kita
dipertemukan dalam sebuah tabrakan kecil yang menurutku sangat drama, moment
tatap-tatapan itu, moment saling melemparkan senyum itu, tidakkah itu sangat
drama? Tapi itu bagian dari takdirku. Pertemuan tak sengaja waktu itu yang
selanjutnya berkembang menjadi suatu hubungan yang lebih khusus, sampai pada
akhirnya tepat dihari kelulusan Rakka meminta untuk putus secara tiba-tiba.
Dengan alasan ingin fokus belajar di salah satu universitas dinegri paman Sam
itu. Tentu saja seorang Rakka Aditya, Kapten tim basket putra, Ketua Osis,
Juara umum, tentu ingin mendapatkan sekolah yang layak dan bagus untuk masa
depannya. Tapi apa harus sejauh itu? Well, ini semua karna takdir. Takdir yang
memisahkan kami berdua, mengakhiri kisah cinta kita seperti layaknya drama.
Sampai sekarang aku belum bisa
melupakannya. Bahkan aku masih selalu menandai kalenderku dengan tanda hati
setiap tanggal 18 agustus, hari jadi kita. Kalau bukan karna takdir sialan itu,
dua hari lagi aku sudah tiga tahun bersama Rakka. Hhhh aku menghela napas untuk
kesekian kalinya.
”Sya... Sya...
Marsya!”
”Eh, kenapa Vi?
”Aduh Sya, lagi-lagi
lo ngelamun, pleas deh Marsya lo gak mau kan ayam tetangga gue mati lagi”
Via, dia sahabatku sejak kecil.
Seorang cewek yang selalu percaya dengan yang namanya tahayul. Baru kemarin aku
kena protes olehnya karna aku sering
melamun sehingga ayam tetangganya mati. Padahal sudah jelas terbukti ayam itu mati
karna flu burung. Tapi itulah Via. Tahayul yang kadang-kadang tidak masuk
logikapun akan dia percayai. Tapi dia sahabatku dan aku akan menerimanya
seburuk apapun sifatnya.
”Rakka lagi?”
”Hah? Eee..”
”Ah, sudah,
lupakan! Mau sampai mulut gue berbusa buat nyuruh lo lupain si Rak sepatu itu,
lo juga gak bakalan nurutin”
”Namanya Rakka
Via, bukan Rak sepatu”
”Terserah”
*****
Sebuah kotak merah muda aku keluarkan dari
laci meja belajarku. Kubuka tutupnya secara perlahan. Aku memandang nanar isi
dari kotak itu. Foto-foto kenangan aku bersama Rakka semasa kita masih jadian
dulu dan berbagai macam puisi cinta yang Rakka tuliskan untukku. Hampir saja
aku meneteskan air mata kalau saja tidak ada suara dering dari ponselku yang
aku letakkan disampingku. Aku menarik nafas menahan agar air mataku supaya tidak
terjatuh.
”Kenapa Vi?”
”Sya, barusan Rakka
ngirim email ke gue, katanya dia lagi ada di Indonesia sekarang”
Seperti tersambar petir, tubuhku
kaku untuk sejenak. Mungkin aku akan pingsan sekarang.
”Dia di
Indonesia?”
“Iya Sya, tadi
dia bilang kalo…”
”Sekarang dia ada
dimana? Kapan dia ke Indonesia?
Apa dia bakalan balik lagi ke
Amerika? Kapan dia balik? Terus..”
”Sya, pleas gue belum selesai ngomong. Jangan motong seenaknya dong. Nanti tenggorokan lo
bisa kena radang”
Lagi-lagi Via kena syndrom
tahayulnya. Sejak kapan menyela omongan orang bisa kena radang. Dijamin kalo
via mengambil jurusan kedokteran di tes pertama dia akan terdepak begitu saja,
untung saja dia mengambil jurusan musik sama sepertiku.
”Oke, gue minta maaf. Sekarang cepet lo ceritain tentang
Rakka yang ngirim e mail ke lo”
“ Jadi, tadi siang itu Rakka ngirim email ke gue. Tapi gue baru buka sekitar 15 menit yang
lalu, dia bilang dia lagi di Indonesia dan katanya dia pingin ketemu sama gue
besok”
”Terus? Terus?”
”Tapi sayangnya
gue gak bisa. Besok cowok gue ngajak jalan pulang dari kampus”
”Dia.. gak nanya soal gue?”
“Eee… sayangnya
sih enggak. Eh Sya udah dulu ya, ada panggilan masuk. Kayaknya cowok gue nelfon
nih. Bye bye”
Oh lord. Viaaaa bisa gak sih lo
ninggalin cimit cimit lo itu bentar aja. Sudah 1 tahun ini Via dekat dengan salah satu anak jurusan Hukum di kampus kami. Jurusan hukum yang
diambilnya membuat Via jatuh hati padanya. Entah sejak kapan Via sangat
tergila-tergila dengan anak hukum. Mereka sudah jadian dari 5 hari yang lalu. Tapi
sampai sekarang Via masih merahasiakan pacarnya itu dariku. Alasanya sih
katanya pamali kalo belum seminggu jadian udah dikenalin. Tahayul again!
*****
Tanggal 18 agustus. Ya. Hari ini hari jadi aku dan Rakka yang ke3 tahun,
jika kami belum putus tentunya. Mengingat obrolan aku dengan Via tadi malam
akankah hari ini aku bertemu dengan wajah tampan itu lagi. Hhhh andai Via
menyetujui ajakan Rakka untuk bertemu dengannya, mungkin aku akan ikut demi
bisa bertemu dengan Rakka lagi.
Dengan malas ku langkahkan kakiku kembali menuju kelas. Padahal aku sudah
sangat ingin pulang, merebahkan tubuh dikasur big sizeku. Tapi kenapa Bisa aku meninggalkan tugas skripsiku
begitu saja di kolong mejaku. Langkah kakiku memelan saat melihat seorang pria
yang sedang tertidur diatas meja Via. Meja via memang tidak jauh dariku hanya
berjarak 1 meja, Via duduk paling depan sedangkan aku duduk diurutan ketiga
dari depan. Wajah pria itu ditenggelamkan kedalam lenganya yang sedikit berotot
sehingga aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi sepertinya itu pacar
barunya Via yang tempo hari sering dia ceritakan. Lalu untuk apa dia disini?
Menunggu Via sampai tertidur lelap begitu? Ku abaikan rasa penasaranku itu
walaupun sebenarnya aku sangat penasaran dengan pacar Via itu, jangankan
wajahnya namanyapun aku tidak tahu. Tapi demi tidur siang yang nyenyak aku
buru-buru menuju mejaku, malihat ke arah loker meja dan mengambil tugas
skripsiku lalu melangkah pergi. Tapi..
HUP!, sebuah
tangan tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku dengan sigap. Ku alihkan
wajahku kearah tangan tersebut. Oh lord! Wajah tampan itu. Dia.. dia....
”Miss you”
Rakka aditya! Demi Dewi Fortuna, akhirnya aku bisa mendengar suara itu
lagi. Mata huzle itu langsung menarik perhatianku. Dan untuk selanjutnya
seperti drama. Tangan yang digenggam erat, mata yang saling menatap penuh
kerinduan, lalu tanpa aba-aba tubuh ini sudah di titah untuk mendekap kedalam
pelukan diantara lengan yang berotot itu.
” Kita balikan.
Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu lagi. Aku akan pindah ke Indonesia, sekolah
disini, dikampus ini bareng sama kamu. Dan tahun depan setelah aku lulus dan
mendapat saham dari ayah aku, aku ingin kamu jadi Nyonya Aditya, jadi
pendamping hidup aku”
Aku menatapnya tak percaya. Takdir.
Kau sangat hebat. Terimakasih karna sudah mengembalikan pangeran tampanku ini,
terimakasih atas ujiannya selama 2 tahun ini. Dan big thanks buat akhir
kisah yang begitu sweet ini. Terlihat
seperti drama? Memang. Tapi ini bagian Dari takdirku. Sudah kubilang takdir
akan membuat hidupmu seperti drama. Dan sebagian besar itu adalah takdir dalam
hal Cinta. Coba perhatikan dan rasakan apakah takdir Cintamu akan terlihat
seperti drama? Aku berani taruhan jawabannya pasti Iya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar