Senin, 17 Juni 2013

January's Love

Sebelumnya mau minta maaf apabila ada kesamaan tokoh, ide cerita, setting, dll... . gue gak pandai bikin cerita. tapi nikmatin aja ya bacanya. sebelumnya gue udah ngepost bagian awalnya. Sorry kalo hasilnya mengecewakan... So.. ini Dia......








(1 Januari 2013)

Malam ini hujan turun dengan lebat. Aku berdiri disebuah halte tempat biasa aku menunggu bus untuk pulang. Saat itu jalanan sedang sepi, mungkin karena pengaruh waktu yang sudah menunjukan pukul 11 malam. Kuliah malam dan banyaknya tugas yang menuntutku pulang selarut ini. Begitu hening dan dingin, sedikit kekhawatiranku kalau saja tidak ada lagi bus yang beroperasi. Aku melangkahkan kakiku kedepan beberapa langkah melihat kearah kananku untuk memastikan akan ada bus yang lewat. Tapi hasilnya nihil. Lalu aku kembali melangkahkan kakiku kebelakang dan ”Arrgh” teriak seorang pria. Dengan perasaan takut dan berhati-hati aku mulai menoleh kearah belakangku. Dang Binggo! Aku melihat seorang pria yang sudah sangat aku kenali. Dia tampan, tinggi, berkulit putih, rambutnya sedikit acak-acakan tapi terkesan cool. Dia Cakka, pria yang sudah sangat terkenal di kampus kami karna kepopulerannya sebagai kapten tim basket sekaligus sebagai anak dari seorang pengusaha hotel ternama di Indonesia. Lalu untuk apa dia berada disini? Menunggu bus juga? Kurasa tidak. Dia selalu membawa kendaraan mewahnya kekampus. Lalu kemana kendaraannya itu sekarang? Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di benakku saat melihat Cakka di halte ini.

”Ups! Sorry’, aku langsung mengangkat kaki kananku yang tak sengaja menginjak kaki Cakka

”Sendirian?”, tanyaku lanjut

”Liatnya?”, tanya Cakka balik. Pandangannya tidak lepas dari jalanan didepan

”Ya sendirian sih”

”Yaudah itu tau”

Aku berani bersumpah, pria ini benar-benar menyebalkan. Apa harus sedingin itu menjawab pertanyaanku.

Suasana hening, tidak ada lagi percakapan diantara aku dan Cakka, malas juga kalo harus mulai mengajaknya ngobrol lagi. Itu sama saja masuk kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

”Lo Agni kan?”, tiba-tiba Cakka memulai pembicaraan. Kaget juga mendengarnya bicara duluan terlebih lagi dia tau namaku

”Eh.. iya, gue Agni”

”Oooh..”

Kembali hening

“Koq Lo kenal gue?” tanyaku penuh selidik

“Penting gue jawab?”

“Gak, gak usah di jawab”, aku mendengus kesal.

Kembali hening. Oh God ciptaanmu yang satu ini benar-benar sangat dingin dan menyebalkan. Bahkan kamipun tidak saling menatap saat kami berbicara. Hanya sibuk dengan tatapan masing-masing yang entah menatap apa di depan sana.

”Gue suka Sama lo!”, kata Cakka tiba-tiba. Masih dingin.. dan masih tidak menatapku
Jujur saja, aku sangat terkejut mendengarnya

”Jangan bercanda”. Ucapku tenang

”Serius”

”Gue bilang jangan bercanda”

Tidak ada jawaban dari Cakka. Aku meliriknya. Dia menundukan kepalanya entah karena apa.

”Gue duluan”, tiba-tiba Cakka pergi begitu saja menerobos lebatnya hujan di jalan. Sebenarnya apa yang terjadi pada anak itu.


(8 Januari 2013)


Sudah seminggu ini aku tidak melihat keberadaan Cakka di kampus. Bahkan aku juga tidak bisa menemukannya di lapangan basket tempat biasa dia berkumpul bersama teman-temanya.  Kemana anak itu? Apa ada sangkut pautnya dengan kejadian waktu malam itu?

Hari ini dan sebulan kedepan aku kuliah pagi. Kebetulan butik baju tempat biasa aku bekerja sedang mengalami renovasi, jadi seluruh karyawan diliburkan. Ya. Sudah setengah tahun ini aku bekerja di butik baju dekat kos-kosanku. Aku memilih kerja part time untuk tambahan uang kuliah dan untuk mengisi waktu luang.


*****


waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Berarti sudah dua jam aku berada di perpustakaan kampus. Aku memang sering kesini untuk membaca sejumlah buku. Dari kecil aku memang sangat suka membaca mungkin itu sebabnya aku selalu mendapat peringkat yang baik dikelas. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju pintu keluar kampus. Ah ternyata hujan turun lagi dan sialnya aku lupa membawa payung.

”Belum pulang?” tanya seseorang tiba-tiba dibelakangku. Familiar suaranya, berat dan terkesan cool.

”Cakka!”, seruku kaget

”Belum pulang?”, tanyanya ulang

”Em.. belum. Hujan, gue lupa bawa payung”

”Cuma hujan biasa, gak deres”

”Tapi tetep aja bisa bikin gue basah”

”Takut basah?”

”Eh....”

”Cih Dasar kucing”

Aku menyesal bertemu dengan Cakka. Mengapa dia tidak hilang lebih lama lagi. Aku benar-benar malas berhadapan dengan sikap dinginnya itu.

”Gue anter”

”Gak usah”

”Gratis”

”Gue bilang gak usah, lo maksa bang.... Eeeeeh... mau di bawa kemana gue?”

Tiba-tiba Cakka menarik tanganku, dan membawaku ke sebuah motor cagiva putih yang sedang terpakir di depan kampus

”Naik!”, perintahnya

”Gak!”

”Keras kepala”

”Lo juga..
Aaaa... Cakka lepasin gue”.

Pria ini benar-benar menyebalkan. Aku sudah bilang aku tidak mau naik. Dia malah menggendongku dan langsung mendudukkanku tepat di jok belakang. Cih! Dia benar-benar menyebalkan.

Cakka mengendarakan motornya dengan sangat cepat. Padahal hujan masih belum berhenti, tetapi Cakka tetap nekat mengendarakan motornya menerobos lebatnya hujan. Cakka.. kau benar-benar sudah gila.

”Turun”

”Hah? Apa?”

”Turun, udah sampai”

Akupun turun dari motor Cakka dan mulai menatap bangunan di depanku ini.

”Ini tempat apa Kka?”

”Lo gak bisa baca?”. Cakka menunjuk ke sebuah papan yang terpasang didepan bangunan itu.

”Rumah Pelangi”, ucapku sambil menatap papan yang ditunjuk Cakka.

”Ayo masuk, hujannya makin deres”, ajak Cakka yang mulai melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.

”Cih apa-apan itu? Dari tadi udah hujan kali, udah keburu basah baju gue. baru disuruh neduh sekarang. Dasar wong edan”, bisikku

”Gue denger”, teriak Cakka yang sudah hampir tiba di depan teras rumah tersebut.

Aku mulai mengikuti Cakka untuk masuk ke rumah itu. Rumahnya sederhana, tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku. Didepan rumah itu ada halaman yang cukup luas. Terlihat sebuah rumah pohon yang dibawahnya terdapat sebuah ayunan dari rotan yang cukup untuk dua orang. Juga ada beberapa bangku dan meja taman di sampingnya. Semua di cat dengan warna senada, warna pelangi. Mungkin itu sebabnya rumah ini disebut rumah pelangi. Tapi.. rumah siapa ini? Apa Rumah Cakka? Tapi apa mungkin seorang Cakka yang berasal dari keluarga kaya raya memiliki rumah sesederhana ini?


”Ka Cakka..!”. seorang anak perempuan tiba-tiba keluar dari rumah itu dan langsung berlari kearah Cakka.

”Haay.. Angel, gimana keadaan kamu? Udah gak sakit kan?”

Kulihat Cakka begitu akrab dengan anak itu. Sikap dinginnya yang menyebalkan itu tiba-tiba lenyap entah kemana. Saat itu Cakka benar-benar terlihat berbeda.




*****


Ku ayunkan kakiku perlahan, ku biarkan tubuhku bergerak mengikuti gerak ayunan rotan yang kini aku duduki. Hujan telah berhenti. Ku pejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma hujan yang menyejukkan. Sangat menenangkan.

”Udah mau malem. Ayo pulang”. Suara itu lagi, menggangguku lagi. Cakka benar-benar tidak bisa melihatku senang sebentar

”Sebentar lagi”, sahutku malas dengan masih memejamkan mata.

Suasana begitu hening. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian di halte seminggu yang lalu. Sama seperti ini. Hening dan dingin. Perlahan kubuka mataku dan sedetik kemudian aku tiba-tiba lupa bagaimana cara bernafas. Wajah tampan itu kini benar-benar ada di hadapanku. Sangat dekat. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Hening.. sangat hening. Hanya sibuk dengan pikiran masing-masingu untuk mencari arti dari tatapan mata yang hangat itu.

”Eh sorry”, dengan sekejap Cakka menjauhkan dirinya dariku. Sedikit salah tingkah rupanya. Sangat lucu.

”Jadi... udah berapa lama lo jadi relawan buat anak-anak itu?”. tanyaku untuk sedikit mencairkan suasana.

”Udah dua tahun.”

Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Tadi sebelum hujan reda saat kami berada di dalam rumah Pelangi, Cakka menjelaskan kepadaku bahwa rumah pelangi ini adalah rumah yang Cakka beli untuk membantu memperbaiki hidup anak-anak jalanan yang tinggal disini. Cakka juga sering membawakan makanan, pakaian, bahkan buku-buku untuk mereka. Cakka juga menjelaskan atas kehilangannya yang tiba-tiba beberapa hari yang lalu itu disebabkan karena Angel sakit. Jadi cakka memutuskan untuk tidak kuliah sebentar untuk merawat Angel. Awalnya aku sempat tidak percaya dengan Ucapan Cakka. Tapi setelah mendengar pernyataan anak-anak dirumah pelangi yang bercerita betapa baiknya Cakka, kini aku jadi percaya.


(18 Januari 2013)


Sudah seminggu lebih aku membantu Cakka untuk mengurusi anak-anak di rumah pelangi. Dan sudah seminggu lebih pula hubunganku dengan Cakka semakin membaik. Cakka benar-benar membuatku kagum akan sikapnya yang seperti malaikat bila didekat anak-anak itu.


*****


”Waktu malam itu...”, tiba-tiba Cakka membuka suara. Membuatku menghentikan gerakan ayunan rotan yang sedang aku naiki. Aku menoleh kearahnya. Menatapnya penuh rasa tanya.

”Lo belum ngasih jawaban”, lanjutnya

”Jawaban apa?”

”Cih, Dasar pikun!”

Aku mendengus kesal

”Ag..” tiba-tiba Cakka turun dari ayunan disebelahku dan langsung berlutut didepanku sambil menggenggam tanganku.

”Ag.. gue bukan seorang aktor yang suka acting di depan orang banyak. Gue juga bukan pelawak yang selalu bercanda dalam setiap ucapannya.. Ag.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo”

Ku pandang  wajah tampan itu. Sorot matanya penuh dengan keyakinan. Sepertinya aku akan menarik kata-kataku tempo lalu yang bilang kalau Cakka bercanda. Saat ini aku benar-benar melihat kejujuran Cakka tentang perasaannya padaku.

”Tapi Kka... kenap...” belum selesai aku berbicara Cakka langsung memotongnya

”Gak butuh alasan Ag.. buat gue jatuh cinta sama lo.. karna gue gak mau suatu saat nanti kita berpisah karna suatu alasan juga”

Aku terkesima dengan ucapan Cakka barusan. Ku tatap matanya lekat-lekat. Sedetik kemudian aku tersadar dan langsung melepaskan tanganku dari genggaman Cakka.

”Kasih gue waktu untuk berfikir”

”Oke, gue tunggu. 26 januari nanti saat ulang tahun gue. Di sini, ditempat yang sama”

Aku mengangguk tanda setuju.


(21 januari 2013)


Pagi ini rasanya aku malas sekali pergi ke Kampus. Sudah ada dalam niatku aku akan bolos kuliah mungkin selama dua atau tiga hari ini. Sudah 3 hari ini hubungan ku dengan Cakka menjadi sedikit canggung. Aku selalu ingin menghindar bila berhadapan dengan Cakka di Kampus atau di Rumah Pelangi. Sejujurnya aku masih sangat bingung dengan perasaanku kepada Cakka. Itulah sebabnya aku selalu merasa tidak siap bila bertemu dengan Cakka.

Ku langkahkan kakiku keluar kos-kosanku berniat untuk bolos ke kampus dan pergi ke toko buku yang biasa aku datangi. Berharap disana aku tidak menemukan keberadaan Cakka. Saat aku membuka pintu kosanku aku menemukan setangkai bunga mawar putih. Ku ambil mawar itu dan membaca kartu ucapan berwarna merah muda yang di lekatkan bersamaan dengan mawar tersebut.

”Gue tau hari ini atau bahkan besok lo pasti gak pergi ke Kampus. maaf udah bikin lo gak nyaman sama kehadiran gue. Tapi gue harap besok siang lo bisa dateng ke Rumah Pelangi. Besok Angel ulang tahun. gue gak mau dia sedih kalo lo gak dateng”

-Cakka-

Aku menghela nafas, tapi aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Lagi-lagi Cakka melakukan sesuatu yang tak aku duga sebelumnya. Bagaimana dia bisa tau niatku yang ingin bolos kuliah.

”Romantis”, ucapku



(22 Januari 2013)


Hari ini tepat Angel berusia 8 tahun. Pesta sederhana di adakan di halaman Rumah Pelangi. Terlihat anak-anak sangat menikmati pestanya tak terkecuali Angel. Senyumnya tidak pernah pudar selama pesta berlangsung. Terlihat juga Cakka sangat sangat bahagia karna kerja kerasnya untuk menyiapkan pesta ulang tahun Angel tidak sia-sia. Cakka. Ya hari ini aku bertemu dengannya setelah beberapa hari yang lalu aku selalu menghindar darinya.


”Minum?”. Cakka menawarkan segelas sirup kepadaku

”Tanks”. Ucapku sambil menerima segelas sirup tersebut

”Lama gak ketemu sama lo Ag...”

”Kenapa? kangen? Hahaa...”, candaku

”Iya”

Aku langsung terdiam setelah mendengar jawaban cakka barusan. Aku tidak mengira dia akan seserius itu menanggapi pertanyaanku yang terkesan hanya bercanda. Suasana berubah menjadi hening. Aku tau saat ini Cakka sedang memperhatikanku. Tapi aku tidak berani menoleh kearahnya atau mengajaknya berbicara. Kemudian cakka tiba-tiba berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri di bangku taman ini. Aku menoleh ke samping dan menemukan mawar putih dilengkapi dengan kartu ucapan berwarna merah muda sama persis dengan mawar putih yang cakka letakkan di depan pintu kosanku tempo lalu.


4 hari lagi.. Agnia Agista...”

-Cakka-

Lagi-lagi aku tidak bisa menahan senyumku saat membaca isi dari kartu ucapan tersebut.

”Iya Cakka Pratama. I remember”, ucapku pelan.



(25 Januari 2013)


Aku menopang dagu diatas meja taman di halaman rumah pelangi. Besok cakka berulang tahun itu artinya aku sudah harus memutuskan jawaban yang akan aku berikan kepada Cakka. Tapi kemana Cakka? Semenjak acara ulang tahun Angel selesai pada tiga hari yang lalu aku tidak melihat lagi keberadaannya dimanapun. Lagi-lagi dia menghilang secara misterius. Tapi kali ini aku benar-benar merindukan kehadirannya. Aku teringat dengan kejutan-kejuatan manis yang selalu dia buat untukku melalui bunga mawar putih beserta kartu ucapan merah muda yang isinya selalu bisa membuatku tersenyum. Sebuah senyuman tiba-tiba terukir di wajahku saat memikirkannya. Oh apa yang terjadi padaku. Apa aku mulai mencintainya?


”Ka Agni...”, tiba-tiba Angel datang menghampiriku dengan membawa satu rangkaian mawar putih dan sebuah buku berwarna coklat. Seperti buku catatan.

”Buat kakak”, katanya lanjut sambil menyerahkan rangkaian mawar dan buku itu kepadaku

”Dari siapa?”. Tanyaku. Angel hanya menggeleng tak tau

Ku perhatikan rangkaian bunga mawar tersebut. Mengapa tidak ada kartu ucapannya? Siapa yang mengirimnya? Lalu aku mulai membuka buku catatan warna coklat itu. Di dalamnya penuh lukisan wajahku dalam berbagai moment. Di lembaran terakhir buku itu aku melihat sebuah tulisan yang sudah sangat aku kenali.

”Agnia Agista... aku sangat mencintaimu”

-Cakka Pratama-

Aku tidak bisa lagi membendung air mataku setelah membaca tulisan itu. Aku sangat terharu ini benar-benar sangat romantis. Cakka kamu dimana sekarang? Apa kamu tau kalo kamu sekarang sudah bisa mendapatkanku.


(26 januari 2013)

Hari ini aku sangat bersemangat. Cakka.. kamu akan mendapatkan kado terindah dariku. Ku langkahkan kakiku dengan cepat memasuki Rumah Pelangi. Saat aku tiba disana terlihat dengan jelas anak-anak sedang bersedih bahkan sebagian dari mereka ada yang menangis. Apa yang terjadi?

”Ka Agniii...”. angel berlari kearahku dan langsung memelukku sambil menangis

”Angel kenapa? koq nangis?”, tanyaku lembut

”Ka Cakka ... hiks... Ka Cakka udah hiks.. udah gak ada kak.. hiks.. ”, kata angel terbata bata karna menahan tangis

”Angel.. maksud kamu apa? Kakak gak ngerti”. Aku mulai sedikit khawatir atas ucapan Angel barusan. Apa maksudnya Cakka udah gak ada?

Tiba-tiba Kiki datang menghampiriku. Kiki adalah anak yang usianya paling dewasa di rumah pelangi ini. Dia yang menjadi kepercayaan Cakka sebagai penggantinya jika cakka sedang tidak ada di Rumah Pelangi.

”Kak Agni.. tadi pagi sehabis sholat subuh, kami dapat kabar dari orang tua ka Cakka kalo Ka Cakka udah gak ada.. Ka Cakka meninggal karna sakit kanker hati yang di idapnya selama 1 tahun. Selama ini Ka Cakka tiba-tiba menghilang itu karna Ka Cakka lagi di rawat di rumah sakit karna kondisinya sempat drop. Dan pada akhirnya..”

”Stop! Jangan di lanjutin. Kakak gak mau denger apa-apa lagi”. Aku berteriak keras kepada Kiki saat dia menjelaskan apa yang terjadi kepada Cakka.

Lututku lemas, wajahku sudah penuh dengan air mata. Setelah mendapat alamat tempat Cakka di makamkan dari Kiki. Aku langsung berlari menuju kesana. Kebetulan jaraknya tak jauh dari Rumah Pelangi ini.



*****

Aku sudah tiba tepat berada di dapan pemakaman Cakka. Aku melihat banyak karangan bunga yang bertuliskan ”turut berduka cita” yang terpasang di depan pemakaman. Dengan nafas yang terengah-engah aku mulai mendekat kerah kerumunan orang yang baru saja meninggalkan suatu makam. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat batu nisan di makam tersebut yang bertulisakan ’Cakka Pratama’

Aku menangis sejadi-jadinya. Lututku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh lemas saat itu. Aku menatap nanar sebuah batu nisan didepanku itu.

”Cakka.. kenapa lo secepat ini pergi dari gue? Kita udah janji kan? Hari ini... hari dimana lo ulang tahun. lo akan mendengar jawaban dari gue. Apa lo gak mau denger jawaban dari gue Kka? Aku mencintaimu Cakka... aku mencintaimu..”

Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya. Seorang wanita dewasa tiba-tiba ikut berlutut disampingku

”Kamu pasti Agni.. Cakka banyak cerita tentang kamu. Tante sebagai Mamanya Cakka mau ngucapin makasih banyak ke kamu, karena kamu sudah membuat sisa hidup Cakka penuh dengan kebahagiaan”

Aku hanya menatapnya nanar, aku sudah tak mampu lagi berkata-kata.

”Selama ini Cakka selalu menutupi penyakitnya dari orang lain. Terutama dari kamu Agni, dia tidak mau kalau kamu tau dia mengidap penyakit kanker. Kemarin Saat kondisi Cakka benar-benar memburuk. Cakka menyuruh tante untuk mengirimkan rangkaian mawar putih untukmu beserta buku catatan Cakka. Agni... percaya sama tante Cakka pergi bukan untuk meninggalkanmu, dia akan terus mencintaimu Agni..”

Ku alihkan pandanganku ke batu nisan di hadapanku. Aku memeluknya erat sangat erat.

”Aku juga mencintaimu Cakka Pratama”, ucapku sendu


(31 Januari)

Sudah lima hari setelah kepergian Cakka. Kini aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk Rumah Pelangi. Bahkan tak jarang aku menginap disini dan tidak pulang ke kos-kosanku. Hari hariku di Kampus juga tak sesemangat dulu. Aku merindukanmu Cakka. Aku ingin kau kembali.


*****


Ku hela nafasku perlahan. Disini. Di halte ini. Sama seperti ini hujan, sepi dan dingin. Saat aku dan Cakka pertama kali ngobrol lalu tiba-tiba Cakka menyatakan perasaannya padaku untuk pertama kalinya dengan sikap dinginya. Aku tersenyum mengingatnya.

Tiba-tiba seseorang mengajukan setangkai bunga mawar putih di hadapanku. Aku terkejut. Mawar itu.. aku menoleh ke samping. Seorang pria berdiri disana. Tinggi, Putih, Tampan, sama seperti...


”Lo Agni kan?... gue suka sama lo!”




__FIN_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar